Dhammapada Syair 99 – Kisah Seorang Wanita

Ketika berdiam di Vihara Jetavana, Sang Buddha membabarkan syair kesembilan puluh sembilan dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada seorang wanita yang tak dikenal.

Seorang bhikkhu, setelah menerima sebuah pelajaran meditasi dari Sang Buddha, berlatih meditasi di sebuah taman tua. Seorang wanita yang tidak dikenal datang ke taman tersebut, dan melihat bhikkhu itu, ia mencoba untuk menarik perhatiannya dan merayunya. Sang thera menjadi takut, dan pada saat bersamaan; seluruh tubuhnya diliputi berbagai macam perasaan kepuasan yang menyenangkan. Sang Buddha melihatnya dari vihara Beliau, dan dengan kemampuan batin luar biasaNya, mengirim seberkas sinar kepadanya, dan bhikkhu tersebut menerima pesan yang berbunyi, “Anakku, tempat di mana orang mencari kesenangan duniawi bukanlah tempat bagi para bhikkhu; para bhikkhu semestinya menikmati kesenangan tinggal di dalam hutan di mana orang-orang duniawi tidak menemukan kesenangan.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Hutan adalah tempat yang menyenangkan, namun bukan tempat yang disukai kebanyakan orang. Disanalah mereka yang telah terbebas dari nafsu (Arahat) berbahagia, karena mereka tidak lagi mengejar kenikmatan indria.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production
Advertisements

Dhammapada Syair 98 – Kisah Revata Thera

Ketika berdiam di Vihara Jetavana, Sang Buddha membabarkan syair kesembilan puluh delapan dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada Revata Thera dari Hutan Khadira (Akasia).

Revata adalah saudara laki-laki termuda dari sang siswa utama, Sariputta. Dialah satu-satunya saudara Sariputta yang belum meninggalkan kehidupan keduniawian untuk menempuh kehidupan tanpa perumah tangga. Orang tuanya sangat menginginkan agar ia segera menikah. Revata baru berumur tujuh tahun ketika orang tuanya mengatur sebuah pernikahan baginya dengan seorang gadis belia. Pada jamuan pernikahan, Revata kecil bertemu dengan seorang wanita tua yang telah berumur seratus dua puluh tahun, dan ia menyadari bahwa segala sesuatu yang berkondisi akan mengalami ketuaan dan kelapukan. Jadi ia berlari meninggalkan rumah dan pergi menuju sebuah vihara, di mana terdapat tiga puluh bhikkhu di sana. Sebelumnya, para bhikkhu itu telah diminta bantuan oleh Sariputta Thera agar menjadikan saudaranya seorang samanera, bila ia datang kepada mereka. Maka, Revata menjadi seorang samanera dan Sariputta Thera diberitahu hal itu oleh para bhikkhu.

Samanera Revata menerima sebuah pelajaran meditasi dari para bhikkhu dan pergi ke sebuah hutan akasia, tiga puluh yojana jauhnya dari vihara itu. Pada akhir masa vassa, sang samanera berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat. Sariputta Thera kemudian memohon izin Sang Buddha untuk mengunjungi saudaranya, tetapi Sang Buddha menjawab bahwa Beliau sendiri juga akan pergi ke sana. Jadi, Sang Buddha disertai Sariputta Thera, Sivali Thera, dan lima ratus bhikkhu lainnya pergi mengunjungi Samanera Revata.

Perjalanan itu sangat jauh, jalannya buruk dan daerah tersebut tidak ditinggali manusia; tetapi para dewa memenuhi setiap kebutuhan Sang Buddha dan para bhikkhu lainnya selama perjalanan. Pada setiap satu yojana, sebuah vihara dan makanan disediakan, dan mereka berjalan rata-rata satu yojana tiap harinya. Revata, mengetahui perihal kedatangan Sang Buddha, juga membuat persiapan untuk menyambutnya. Dengan kekuatan batin luar biasanya, ia menciptakan sebuah vihara khusus untuk Sang Buddha dan lima ratus vihara lainnya untuk para bhikkhu, dan membuat mereka merasa nyaman ketika mereka tinggal di sana.

Pada perjalanan pulang mereka, mereka berjalan dengan kecepatan yang sama seperti sebelumnya, dan sampai di Vihara Pubbarama di ujung timur kota Savatthi pada akhir bulan. Dari sana, mereka pergi ke rumah Visakha, yang mempersembahkan dana makanan kepada mereka. Setelah makan, Visakha bertanya kepada Sang Buddha apakah tempat Revata di hutan Akasia menyenangkan.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Di desa, di hutan, di lembah atau di tanah datar, dimanapun para Arahat bermukim, tempat itu menjadi sangat menyenangkan.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production

Dhammapada Syair 97 – Kisah Sariputta Thera

Ketika berdiam di Vihara Jetavana, Sang Buddha membabarkan syair kesembilan puluh tujuh dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada Sariputta Thera.

Tiga puluh bhikkhu dari sebuah desa telah datang ke Vihara Jetavana untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha. Sang Buddha mengetahui bahwa telah tiba waktunya bagi bhikkhu-bhikkhu tersebut untuk mencapai tingkat kesucian Arahat. Jadi, Beliau mengundang Sariputta, dan di hadapan bhikkhu-bhikkhu itu, Beliau bertanya, “Anakku Sariputta, apakah kamu dapat menerima bahwa dengan cara bermeditasi seseorang dapat mencapai Nibbana?” Sariputta menjawab, “Yang Mulia, berkaitan dengan pencapaian Nibbana melalui latihan meditasi, saya menerima hal itu bukan karena saya percaya kepadaMu; sebab hanya seseorang yang belum berhasil mencapai Nibbana-lah yang serta-merta menerima pernyataan dari orang lain”. Jawaban Sariputta tidak dapat dimengerti secara tepat oleh para bhikkhu, mereka berpikir, “Sariputta belum melenyapkan pandangan salah; sampai saat ini, ia belum memiliki keyakinan terhadap Sang Buddha”.

Kemudian Sang Buddha menjelaskan kepada mereka makna sebenarnya dari jawaban Sariputta. “Para bhikkhu, jawaban Sariputta dapat disederhanakan seperti demikian; ia menerima bahwa Nibbana dapat dicapai melalui latihan meditasi, tetapi ia menerima hal itu berdasarkan hasil pencapaiannya sendiri, dan bukan karena saya yang telah mengatakan hal itu atau orang lain telah mengatakan hal itu. Sariputta memiliki keyakinan terhadapku; ia juga memiliki keyakinan terhadap akibat-akibat dari perbuatan baik dan jahat.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Ia tidak memiliki pandangan yang keliru, menembus keadaan yang tidak berkondisi (Nibbana), telah mematahkan semua belenggu, memutuskan semua ikatan duniawi. Ia telah menghancurkan semua kesempatan untuk terlahir kembali, ia telah memadamkan semua nafsu keinginan, oleh karena itulah, -Arahat- adalah orang yang betul-betul mulia.

Pada akhir khotbah Dhamma tersebut, semua bhikkhu berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production

Dhammapada Syair 95 – Kisah Seorang Samanera dari Kosambi

Ketika berdiam di Vihara Jetavana, Sang Buddha membabarkan syair kesembilan puluh enam dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada seorang samanera, seorang murid Tissa Thera dari Kosambi.

Suatu ketika, seorang anak berumur tujuh tahun menjadi samanera atas permintaan ayahnya. Sebelum rambutnya dicukur, anak itu diberi sebuah pelajaran meditasi. Ketika rambut anak itu sedang dicukur, ia memusatkan pikirannya dengan teguh pada objek meditasi tersebut; sebagai hasilnya, ia berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat segera setelah rambutnya dicukur.

Beberapa waktu kemudian, Tissa Thera, disertai samanera muda tersebut, pergi ke Savatthi untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha. Di tengah perjalanan, mereka bermalam di sebuah vihara desa. Sang thera tertidur, tetapi samanera muda duduk sepanjang malam di samping kasur thera tua itu. Pada waktu fajar menyingsing, Tissa Thera berpikir bahwa sudah saatnya untuk membangunkan samanera muda. Jadi ia membangunkan samanera muda itu dengan sebuah kipas daun palem, dan secara tidak sengaja mata samanera terpukul oleh tangkai kipas hingga melukai matanya. Samanera menutup matanya dengan satu tangan dan pergi melaksanakan tugasnya untuk mempersiapkan air pencuci muka dan mulut Tissa Thera, menyapu lantai vihara, dan lain sebagainya. Ketika samanera muda mempersembahkan air dengan satu tangan kepada Tissa Thera, Tissa Thera menegurnya dan berkata bahwa ia seharusnya mempersembahkan dengan dua tangan. Hanya dengan demikian, Tissa Thera mengetahui tentang rusaknya mata sang samanera. Seketika itu pula, ia menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan terhadap seorang manusia yang sungguh mulia. Merasa sangat menyesal dan rendah, ia memohon maaf kepada sang samanera. Tetapi samanera berkata bahwa itu bukan kesalahan Tissa Thera, juga bukan kesalahannya sendiri, tapi merupakan akibat perbuatannya (karma) yang lampau, sehingga Tissa Thera tidak perlu lagi bersedih. Tetapi Tissa Thera tidak dapat mengatasi kekecewaan atas kesalahan yang tak dikehendakinya.

Kemudian mereka meneruskan perjalanan ke Savatthi dan sampai di Vihara Jetavana di mana Sang Buddha menetap. Tissa Thera kemudian berkata kepada Sang Buddha bahwa samanera muda yang datang bersamanya adalah seorang yang paling mulia yang pernah ia temui dan menceritakan segala yang terjadi dalam perjalanan mereka. Sang Buddha mendengarkan ceritanya, dan menjawab, “Anakku, seorang arahat tidak akan marah dengan siapapun, ia sudah mengendalikan indrianya dan memiliki ketenangan yang sempurna.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Seorang Arahat memiliki pikiran yang penuh kedamaian, ucapannya lembut, perbuatannya penuh ketenangan, telah mencapai kebebasan mutlak, batinnya selalu seimbang dan sungguh-sungguh tenang.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production