Dhammapada Syair 46 – Kisah Seorang Bhikkhu yang Memandang Tubuh sebagai Suatu Bayangan

Ketika berdiam di Vihara Jetavana, Sang Buddha membabarkan syair keempat puluh enam dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada seorang bhikkhu.

Pada suatu kesempatan, setelah memperoleh pelajaran meditasi dari Sang Buddha, seorang bhikkhu segera pergi ke hutan. Meskipun ia telah berusaha dengan keras, dia hanya mendapat kemajuan yang kecil dalam latihan meditasinya sehingga ia memutuskan untuk kembali menemui Sang Buddha untuk belajar lebih jauh. Dalam perjalanan pulang, dia melihat sebuah bayangan, yang mana hanya merupakan penampakan semu dari air. Segera ia menyadari bahwa tubuh ini juga semu seperti sebuah bayangan. Dengan tetap memelihara pikiran tersebut, dia menuju ke muara Sungai Aciravati. Ketika ia sedang duduk di bawah pohon dekat sungai, melihat ombak besar yang pecah, ia menyadari ketidak kekalan tubuh ini.

Kemudian Sang Buddha menampakkan diri dan berkata kepadanya, “Anakku, seperti yang telah kamu sadari, tubuh ini tidaklah kekal seperti halnya busa dan semu seperti halnya sebuah bayangan.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Setelah mengetahui bahwa tubuh ini seperti gelembung buih, dan menyadari coraknya yang maya, lalu menghancurkan tangkai bunga kematian dari Mara, membuat dirinya tidak terlihat oleh Raja Kematian.

Bhikkhu tersebut mencapai tingkat kesucian Arahat setelah khotbah Dhamma tersebut berakhir.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production

Dhammapada Syair 35 – Kisah Seorang Bhikkhu

Ketika berdiam di Vihara Jetavana, Sang Buddha membabarkan syair ketiga puluh lima dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada seorang bhikkhu.

Suatu ketika, enam puluh bhikkhu, setelah mendapatkan pelajaran meditasi dari Sang Buddha, pergi ke desa Matika di kaki sebuah gunung. Di sana, Matikamata, ibu dari kepala desa, memberikan dana makanan kepada para bhikkhu tersebut. Matikamata juga membangun sebuah vihara untuk para bhikkhu, sehingga mereka dapat tinggal di sana selama musim penghujan. Suatu hari, Matikamata bertanya kepada para bhikkhu perihal cara-cara bermeditasi. Bhikkhu-bhikkhu itu mengajarkan kepadanya bagaimana cara bermeditasi dengan tiga puluh dua unsur bagian tubuh untuk menyadari kelapukan dan kehancuran tubuh. Matikamata melatihnya dengan rajin dan berhasil mencapai tiga Magga dan Phala bersamaan dengan pandangan terang analitis dan kemampuan batin luar biasa, bahkan sebelum para bhikkhu itu mencapainya.

Dengan munculnya berkah Magga dan Phala, ia dapat melihat dengan mata batin (dibbacakkhu). Ia mengetahui para bhikkhu itu belum mencapai magga. Ia juga tahu bahwa para bhikkhu tersebut memiliki kesempatan yang cukup untuk mencapai Arahat, tetapi mereka memerlukan makanan yang sesuai. Maka, ia menyediakan makanan yang baik dan tepat bagi mereka. Dengan makanan yang sesuai dan usaha yang benar, para bhikkhu tersebut dapat mengembangkan konsentrasi benar dan berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat.

Setelah musim penghujan berakhir, para bhikkhu kembali ke Vihara Jetavana, tempat di mana Sang Buddha berdiam. Mereka melaporkan kepada Sang Buddha bahwa mereka semua dalam keadaan yang baik dan lingkungan yang menyenangkan, dan mereka juga tidak perlu resah akan makanan. Mereka juga menceritakan Matikamata yang menyadari pikiran mereka dan menyediakan serta memberikan pada mereka makanan yang sesuai.

Seorang bhikkhu, mendengar pembicaraan mereka tentang Matikamata, memutuskan untuk pergi ke desa itu juga. Jadi, setelah memperoleh pelajaran meditasi dari Sang Buddha, ia pergi ke vihara desa itu. Di sana, ia menemukan bahwa segala yang diharapkannya akan dikirim oleh Matikamata, umat yang dermawan. Ketika bhikkhu itu mengharap Matikamata datang, ia akan datang sendiri ke vihara, dengan membawa makanan yang telah dipilih. Setelah makan, bhikkhu itu bertanya kepada Matikamata apakah ia dapat membaca pikiran orang lain, tetapi Matikamata mengelak pertanyaan tersebut dengan menjawab, “Seseorang yang dapat membaca pikiran orang lain berkelakuan sesuai tindakannya”. Kemudian bhikkhu itu berpikir, “Mungkinkah saya, seperti umat lainnya, terikat pikiran tidak suci dan ia sungguh-sungguh dapat mengetahuinya.” Bhikkhu itu kemudian menjadi takut terhadap umat dermawan tersebut dan memutuskan untuk kembali ke Vihara Jetavana. Ia menyampaikan kepada Sang Buddha bahwa ia tidak dapat tinggal di desa Matika karena ia kuatir kalau umat dermawan yang setia itu dapat melihat pikirannya yang tidak baik. Sang Buddha kemudian meminta padanya untuk memperhatikan hanya satu hal, yakni mengendalikan pikirannya. Beliau juga meminta bhikkhu tersebut untuk kembali ke vihara desa Matika, dan tidak memikirkan hal-hal lainnya, melainkan hanya pada obyek meditasinya. Bhikkhu tersebut pun kembali ke desa Matika. Umat dermawan itu tetap memberikan dana makanan yang baik kepadanya, seperti yang dilakukannya kepada para bhikkhu lainnya, sehingga bhikkhu itu dapat berlatih meditasi tanpa rasa kuatir lagi. Dalam jangka waktu yang singkat, bhikkhu itu pun berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat.

Berkenaan dengan bhikkhu ini, Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Pikiran itu sangat sulit dikendalikan, bergerak sangat cepat, menuju kemana ia mau pergi. Melatih pikiran adalah baik; pikiran yang terkendali akan membawa kebahagiaan.

Pada akhir khotbah Dhamma tersebut, banyak di antara mereka yang hadir mencapai tingkat kesucian Sotapatti.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production

Dhammapada Syair 31 – Kisah Seorang Bhikkhu

Ketika berdiam di Vihara Jetavana, Sang Buddha membabarkan syair ketiga puluh satu dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada seorang bhikkhu.

Seorang bhikkhu, setelah memperoleh pelajaran meditasi dari Sang Buddha, pergi ke hutan untuk bermeditasi. Meskipun dia berlatih dengan sungguh-sungguh, dia hanya memperoleh kemajuan yang sangat kecil dalam latihan meditasinya. Akibatnya, ia menjadi sangat tertekan dan frustasi. Jadi dengan berpikir akan memperoleh petunjuk lebih mendalam dari Sang Buddha, dia meninggalkan hutan menuju Vihara Jetavana. Dalam perjalanannya, dia menemui nyala api yang sangat besar. Dia berlari menuju puncak gunung dan mencari dari mana asal api tersebut muncul. Seiring penyebaran api itu, ia menyadari seperti api yang membakar habis semuanya, begitu juga pandangan terang akan membakar semua belenggu kehidupan, besar dan kecil.

Sementara itu, dari Gandhakuti di Vihara Jetavana, Sang Buddha mengetahui apa yang dipikirkan oleh bhikkhu tersebut. Jadi Beliau, melalui kemampuan batinNya, menampakkan diri di hadapan bhikkhu tersebut dan berkata kepadanya. “Anakku,” Beliau berkata, “Engkau berada di jalan pikiran yang benar. Pertahankanlah! Semua makhluk harus membakar belenggu kehidupannya dengan pandangan terang.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Bhikkhu yang berbahagia dalam kewaspadaan, dan ngeri terhadap kelengahan, akan maju dalam usahanya mencapai Nibbana, seperti api yang membakar belenggu yang besar dan kecil.

Bhikkhu tersebut berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat setelah khotbah Dhamma tersebut berakhir.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production