Jangan Melekat Pada Kepercayaan Anda


‘O para bhikkhu, bahkan terhadap pandangan ini

(ajaran Buddha)

Yang begitu suci dan jelas,

Jika kamu berpegang padanya, jika kamu menyukainya,

Jika kamu menghargainya, jika kamu melekat padanya,

Maka itu berarti kamu tidak mengerti

Bahwa ajaran ini adalah seperti rakit,

Yang digunakan untuk menyeberang dan

Bukan untuk dibawa-bawa.’

M.I: 260; MLS.I: 316

Hidup Itu Singkat


‘Hidup manusia adalah singkat

Orang bijaksana tidak seharusnya merasa senang didalamnya.

Biarkanlah dia bertindak seolah-olah kepalanya sedang terbakar

Karena tidak ada jalan lain untuk mencegah datangnya kematian.’

S.I: 108

Tiga Kesalahpahaman Yang Membawa Pada Kepercayaan Terhadap Nihilisme


  • Bahwa apapun yang dialami seseorang sepenuhnya adalah akibat dari karma masa lampaunya (Fatalisme)
  • Bahwa apapun yang dialami seseorang adalah suratan dari suatu entitas agung atau Tuhan (Theism)
  • Bahwa tidak ada penyebab atau kondisi apapun yang melatarbelakangi pengalaman manusia

Buddha menyangkal pandangan-pandangan ini dengan sikap berikut:

‘Apabila seluruh pengalaman manusia adalah hasil dari karma yang telah dilakukan pada masa lampau, maka pada kasus pembunuhan, pencurian, penyimpangan seksual, bohong, fitnah, ucapan kasar, dll, tidak akan ada kehendak atau upaya seseorang yang dapat dilakukan berkenaan dengan apa yang seharusnya dilakukan atau tidak seharusnya dilakukan. Sebaliknya, apabila pengalaman manusia adalah hasil kreasi dari suatu entitas agung atau sepenuhnya hanya kejadian saja, maka, manusia tidak akan mampu untuk menilai atau mengampu tanggung jawab moral atas perbuatan-perbuatannya. Oleh karena itu, apabila diteliti secara kritis, maka pandangan-pandangan ini adalah hampa.’

A.I: 173

Buku Dhammapada Atthakatha

Dhammapada merupakan salah satu kitab bagian Khuddaka Nikaya, Tipitaka. Terdapat 423 syair di dalam Dhammapada yang dapat digunakan sebagai pedoman hidup kita sehari-hari. Untuk cerita-cerita Dhammapada lainnya dapat diperoleh dengan membeli buku Dhammapada Atthakatha terbaru terbitan Insight Vidyasena Production. Silakan menghubungi IVP di 08995066277.

dhammapada atthakatha

 

Dhammapada Syair 145: Kisah Samanera Sukha

Ketika berdiam di Vihara Jetavana, Sang Buddha membabarkan syair keseratus empat puluh lima dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada seorang samanera bernama Sukha.

Sukha menjadi samanera pada usia 7 tahun dan ditahbiskan oleh Sariputta Thera. Setelah 8 hari menjadi samanera, ia bersama Sariputta Thera pergi berpindapatta. Ketika sedang berjalan berkeliling mereka melihat para petani sedang mengairi sawahnya, para pemanah sedang meluruskan anak panah, dan beberapa tukang kayu sedang membuat roda pedati, dan sebagainya.

Setelah melihat semua ini, ia bertanya kepada Sariputta Thera, apakah hal-hal (barang-barang) itu dapat diarahkan ke sesuatu tujuan tertentu sesuai dengan keinginan seseorang, atau dapat dibuat menjadi sesuatu sesuai dengan keinginan seseorang.

Sang thera menjawab memang demikian. Kemudian samanera muda memahami bahwa dengan demikian tidak ada alasan mengapa seseorang tidak dapat mengendalikan batinnya, serta melatih “Meditasi Ketenangan” dan “Meditasi Pandangan Terang”.

Kemudian, ia meminta izin kepada Sariputta Thera untuk pulang kembali ke vihara. Di sana ia masuk ke dalam kamarnya dan berlatih meditasi dalam ketenangan.

Dewa Sakka dan para dewa membantu latihan meditasinya dengan cara menjaga suasana vihara agar tetap tenang.

Pada hari kedelapan setelah ia menjadi samanera, Sukha mencapai tingkat kesucian arahat.

Berhubungan dengan hal ini, Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Ketika seseorang melaksanakan Dhamma dengan sungguh-sungguh, maka Sakka dan para dewa akan menolong dan melindunginya. Saya sendiri telah meminta Sariputta Thera berjaga di depan pintu kamarnya sehingga ia tidak terganggu. Samanera telah melihat para petani bekerja dengan giat mengairi sawahnya, para pemanah meluruskan anak panahnya, tukang kayu membuat roda pedati, dan lain-lain, kemudian ia berusaha melatih batinnya dan melaksanakan Dhamma. Ia telah mencapai tingkat kesucian arahat”.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 145 berikut:

Petugas irigasi mengatur aliran air, pengrajin panah membuat busur, tukang kayu memahat kayu, orang bijaksana mengendalikan dirinya.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production