Dhammapada Syair 64 – Kisah Udayi Thera

Ketika berdiam di Vihara Jetavana, Sang Buddha membabarkan syair keenam puluh empat dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada Udayi Thera, seorang bhikkhu yang berpura-pura terpelajar.

Udayi Thera sering mengunjungi dan duduk di atas tempat duduk, di mana para thera terpelajar duduk pada saat menyampaikan khotbahnya. Pada suatu ketika, beberapa bhikkhu tamu, mengira bahwa ia adalah seorang thera yang terpelajar, mengajukan beberapa pertanyaan tentang lima kelompok unsur (khandha). Udayi Thera tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, sebab ia tidak mengerti sama sekali tentang Dhamma. Para bhikkhu tamu tersebut sangat terkejut menemukan bahwa seseorang yang tinggal dalam satu vihara dengan Sang Buddha, hanya mengetahui begitu sedikit tentang khandha dan ayatana (dasar indria dan obyek indria).

Kepada para bhikkhu tamu tersebut, Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Walaupun sepanjang usianya orang bodoh bergaul dengan orang bijaksana, ia tetap tidak akan mengerti Dhamma, seperti sendok sayur yang tidak dapat mencicipi cita-rasa makanan di dalam panci.

Pada akhir khotbah Dhamma tersebut, seluruh bhikkhu tamu berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production

Dhammapada Syair 63 – Kisah Dua Orang Pencopet

Ketika berdiam di Vihara Jetavana, Sang Buddha membabarkan syair keenam puluh tiga dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada dua orang pencopet.

Suatu ketika, dua orang pencopet bergabung dengan sekelompok umat awam pergi ke Vihara Jetavana, di mana Sang Buddha sedang memberikan khotbah. Satu di antara mereka mendengarkan dengan penuh perhatian dan berhasil mencapai tingkat kesucian Sotapatti. Namun, pencopet yang satunya lagi tidak memperhatikan khotbah yang disampaikan karena ia hanya berniat untuk mencuri sesuatu, dan ia berhasil mencuri sejumlah uang dari salah seorang umat. Setelah khotbah berakhir, mereka pulang dan memasak makan siangnya di rumah pencopet kedua, pencopet yang telah mencuri sejumlah uang. Istri dari pencopet kedua mencela pencopet pertama, “Kamu sangat pintar, hingga kamu bahkan tidak mempunyai sesuatu untuk dimasak di rumahmu.” Mendengar pernyataan tersebut, pencopet pertama berpikir, “Orang  ini sangat bodoh, hingga ia berpikir bahwa ia sangat pintar”. Kemudian, bersama-sama dengan anggota keluarga lainnya, ia menghadap Sang Buddha dan menceritakan apa yang telah terjadi pada dirinya.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Orang bodoh yang menyadari kebodohannya sendiri sesungguhnya adalah orang yang bijaksana; sedangkan orang bodoh yang sombong dan menganggap dirinya bijaksana adalah orang yang sungguh-sungguh bodoh.

Semua keluarga pencopet pertama tersebut mencapai tingkat kesucian Sotapatti setelah khotbah Dhamma tersebut berakhir.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production

Dhammapada Syair 62 – Kisah Ananda, Seorang Hartawan

Ketika berdiam di Vihara Jetavana, Sang Buddha membabarkan syair keenam puluh dua dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada seorang hartawan, bernama Ananda.

Suatu ketika, hiduplah seorang hartawan yang sangat kaya raya, bernama Ananda di Savatthi. Meskipun dia memiliki delapan puluh crore, dia tidak mau memberikan sesuatu apapun untuk berdana. Kepada anaknya, Mulasiri, dia sering mengatakan, “Janganlah berpikir bahwa kekayaan yang kita miliki saat ini cukup banyak. Jangan berikan sesuatu apapun yang kau punyai, namun buatlah semakin bertambah. Jika tidak, kekayaanmu akan menghilang”. Orang kaya ini memiliki lima guci berisi emas yang dikubur di dalam rumahnya dan ia meninggal dunia tanpa memberitahukan tempat penyimpanan guci itu kepada putranya.

Ananda, hartawan yang telah meninggal tadi, dilahirkan kembali di sebuah perkampungan pengemis, tidak jauh dari Savatthi. Semenjak ibunya sedang mengandung, penghasilan dan keberuntungan para pengemis menurun. Penduduk perkampungan itu berpikir bahwa pasti ada seseorang yang tidak beruntung dan membawa kesialan di antara mereka. Dengan membagi diri mereka ke dalam kelompok-kelompok kecil dan dengan proses eliminasi, mereka sampai pada kesimpulan bahwa pengemis wanita yang sedang mengandung itulah yang mendatangkan kesialan bagi mereka. Karenanya, ia diusir keluar dari desa. Ketika anaknya lahir, anaknya sangat jelek dan menjijikkan. Jika pengemis wanita itu pergi mengemis sendirian, ia akan memperoleh hasil seperti biasanya, namun jika ia pergi bersama putranya, ia tidak mendapatkan apapun. Jadi, ketika putranya bertambah dewasa dan dapat mandiri, ibunya memberikan sebuah mangkuk di tangannya dan meninggalkannya. Ketika pengemis muda itu berkelana ke Savatthi, ia teringat rumahnya dan kehidupannya yang lampau. Jadi, ia mengunjungi rumah tersebut. Ketika anak-anak dari putranya, Mulasiri, melihatnya, mereka sangat ketakutan melihat penampilannya yang buruk dan mulai menangis. Para pelayan kemudian memukulinya dan melemparnya keluar rumah.

Sang Buddha yang sedang melakukan pindapatta melihat peristiwa itu dan meminta Yang Ariya Ananda untuk mengundang Mulasiri. Ketika Mulasiri datang, Sang Buddha memberitahukannya bahwa pengemis muda tadi adalah ayahnya sendiri pada kehidupan yang lampau. Tetapi Mulasiri tidak dapat mempercayainya. Maka, Sang Buddha meminta pengemis muda itu untuk menunjukkan di mana letak lima buah guci emas tersebut dikubur. Hanya dengan demikian, Mulasiri dapat menerima kebenarannya dan sejak saat itu, ia menjadi umat awam pengikut Sang Buddha.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

“Aku memiliki anak-anakku, aku memiliki kekayaan” demikianlah pendapat keliru si bodoh. Dirinya sendiri bukanlah miliknya, bagaimana ia bisa memiliki anak-anak atau kekayaan?

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production

Dhammapada Syair 61 – Kisah Seorang Murid yang Tinggal Bersama Mahakassapa Thera

Ketika berdiam di Vihara Jetavana, Sang Buddha membabarkan syair keenam puluh satu dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada seorang murid yang tinggal bersama Mahakassapa Thera.

Ketika Mahakassapa Thera berdiam di dekat Rajagaha, beliau tinggal bersama dua orang bhikkhu muda lainnya. Salah satu bhikkhu tersebut sangat hormat, patuh, dan taat kepada Mahakassapa Thera, tetapi bhikkhu yang satu lagi tidak seperti itu. Ketika Mahakassapa Thera menegur kelalaian murid yang kedua dalam menjalankan kewajiban-kewajibannya, murid tersebut sangat kecewa. Pada suatu kesempatan, ia pergi ke salah satu rumah umat awam Mahakassapa Thera dan berbohong kepada mereka dengan mengatakan bahwa sang thera sedang sakit. Maka ia mendapatkan beberapa makanan terpilih dari mereka untuk sang thera, tetapi ia makan makanan tersebut di perjalanan. Ketika sang thera menasehati kelakuannya itu, bhikkhu tersebut menjadi sangat marah. Keesokan harinya, ketika sang thera pergi keluar untuk berpindapatta, bhikkhu muda yang bodoh ini tidak ikut. Ia memecahkan tempat air dan kuali, serta membakar vihara.

Seorang bhikkhu dari Rajagaha menceritakan peristiwa ini kepada Sang Buddha, Sang Buddha mengatakan bahwa lebih baik bagi Mahakassapa Thera untuk tinggal sendirian daripada tinggal bersama seorang yang bodoh.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Apabila seorang pengembara tidak berhasil menemukan teman yang setara atau lebih baik daripada dirinya, maka lebih baik ia mengembara seorang diri daripada ditemani oleh orang bodoh.

Bhikkhu dari Rajagaha tersebut mencapai tingkat kesucian Sotapatti setelah khotbah Dhamma tersebut berakhir.

  •  Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production

Dhammapada Syair 60 – Kisah Seorang Pemuda

Ketika berdiam di Vihara Jetavana, Sang Buddha membabarkan syair keenam puluh dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada seorang pemuda dan Raja Pasenadi dari Kosala.

Suatu hari Raja Pasenadi, ketika sedang berkeliling di kota, melihat seorang wanita muda berdiri di dekat jendela rumahnya dan beliau langsung jatuh cinta padanya. Maka sang raja mencoba untuk menemukan berbagai cara dan kesempatan untuk mendapatkannya. Setelah mengetahui bahwa wanita muda tersebut telah menikah, raja memanggil suami wanita muda tersebut dan menjadikannya seorang pelayan di istana. Kemudian raja memerintahkan suami wanita muda itu untuk melakukan suatu pekerjaan yang mustahil untuk dilakukan. Pemuda itu diperintahkan untuk pergi ke suatu tempat, satu yojana (dua belas mil) jauhnya dari Savatthi, serta membawa pulang beberapa bunga teratai Kumuda dan sedikit tanah merah yang dikenal dengan nama arunavati, dari tanah para Naga, dan kembali ke Savatthi pada sore hari yang sama, pada saat raja mandi. Niat sang raja adalah untuk membunuh suami wanita muda tersebut jika ia gagal kembali pada waktu yang telah ditentukan dan mengambil wanita muda itu sebagai istrinya.

Pemuda itu mengambil ransum makanan dari istrinya dengan tergesa-gesa dan segera berangkat untuk melaksanakan perintah raja. Di tengah perjalanan, pemuda itu membagi bekal makanannya kepada seorang pengembara. Dia juga melemparkan sedikit nasi ke dalam air dan berteriak: “O, makhluk-makhluk penjaga dan naga-naga penghuni sungai ini! Raja Pasenadi telah menyuruhku untuk mengambil beberapa bunga teratai Kumuda dan tanah merah arunavati untuk beliau. Hari ini aku telah membagi makananku dengan seorang pengembara; aku juga memberi makanan buat ikan-ikan di sungai; sekarang aku membagi manfaat perbuatan baik yang telah aku lakukan hari ini denganmu. Tolong, berilah aku bunga teratai Kumuda dan tanah merah arunavati”. Raja para naga mendengarnya, dan dengan menyamar sebagai orang tua, memberikan bunga teratai dan tanah merah yang diharapkan.

Sore hari itu, Raja Pasenadi yang cemas seandainya pemuda tersebut datang kembali tepat pada waktunya, telah memerintahkan untuk menutup gerbang kota lebih awal. Pemuda tersebut, setelah mengetahui bahwa pintu gerbang kota telah ditutup, meletakkan tanah merah pada dinding kota dan menanam tanah merah tersebut dengan bunga teratai. Kemudian dia menyatakan dengan keras: “O, para warga kota! Jadilah saksiku! Hari ini aku telah memenuhi tugasku tepat pada waktunya seperti yang telah diperintahkan oleh raja. Raja Pasenadi, tanpa ada keadilan, merencanakan untuk membunuhku”. Setelah itu pemuda tadi menuju Vihara Jetavana untuk mencari tempat bernaung dan menemukan kebahagiaan di tempat yang penuh kedamaian tersebut.

Sementara, Raja Pasenadi yang digoda oleh nafsu seksualnya, tidak dapat tidur, dan terus memikirkan bagaimana cara menyingkirkan suami wanita muda itu dan mengambil istrinya. Di tengah malam, beliau mendengar suara-suara aneh; yang sesungguhnya merupakan suara-suara yang menyayat hati dari empat makhluk menderita di alam Lohakumbhi Niraya. Mendengar suara-suara yang mengerikan tersebut, sang raja menjadi ketakutan. Besok pagi-pagi sekali, sang raja mengunjungi Sang Buddha, seperti yang disarankan oleh Ratu Mallika. Ketika Sang Buddha diceritakan mengenai empat suara yang didengar oleh sang raja pada malam hari sebelumnya, Sang Buddha menjelaskan pada raja bahwa suara-suara itu merupakan suara-suara dari empat makhluk, yang merupakan putra dari seorang hartawan yang hidup pada masa Buddha Kassapa, dan sekarang mereka menderita di Lohakumbhi Niraya sebab mereka telah melakukan perzinahan dengan istri-istri orang lain. Raja akhirnya menyadari niat buruknya dan akibat yang akan diperoleh. Maka, raja memutuskan sejak hari itu ia tidak akan menginginkan istri orang lain lagi. “Setelah semuanya, kejadian ini disebabkan nafsu keinginanku untuk memiliki istri orang lain sehingga aku tersiksa dan tidak dapat tidur sepanjang malam”, renung beliau. Kemudian Raja Pasenadi berkata kepada Sang Buddha, “Yang Mulia, sekarang saya mengetahui betapa lamanya malam seseorang yang tidak dapat tidur”. Pemuda suami wanita tersebut, yang ada di tempat yang sama, juga mengatakan, “Yang Mulia, karena saya telah melakukan perjalanan penuh satu yojana kemarin, saya juga mengetahui betapa panjangnya satu yojana bagi seseorang yang lelah”.

Dengan menggabungkan kedua pernyataan di atas, Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Malam terasa begitu panjang bagi orang yang tidak bisa tidur, satu yojana terasa begitu jauh bagi orang yang kelelahan. Tumimbal lahir  terasa begitu lama bagi orang bodoh, yang tidak mengenal Ajaran Sejati (Dhamma).

Pemuda tersebut mencapai tingkat kesucian Sotapatti setelah khotbah Dhamma tersebut berakhir.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production

Dhammapada Syair 58 & 59 – Kisah Garahadinna

Ketika berdiam di Vihara Jetavana, Sang Buddha membabarkan syair kelima puluh delapan dan kelima puluh sembilan dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada seorang hartawan bernama Garahadinna dan keajaiban bunga teratai.

Ada dua orang sahabat bernama Sirigutta dan Garahadinna yang tinggal di Savatthi. Sirigutta adalah seorang pengikut Buddha dan Garahadinna adalah seorang pengikut para Nigantha, para pertapa yang menentang ajaran Buddha. Dengan memihak Nigantha, Garahadinna sering kali berkata kepada Sirigutta, “Apa manfaat yang kamu dapatkan dengan menjadi pengikut Buddha? Kemarilah, jadilah pengikut guruku”. Setelah berulang kali dibujuk, Sirigutta berkata kepada Garahadinna, “Katakan padaku, apa yang diketahui oleh gurumu?” Terhadap pertanyaan ini, Garahadinna mengatakan bahwa gurunya mengetahui segala hal; dengan kemampuan mereka yang luar biasa mereka dapat mengetahui masa lampau, saat ini, dan juga masa depan, dan mereka juga dapat membaca pikiran orang lain. Maka, Sirigutta mengundang para Nigantha untuk datang ke rumahnya untuk menerima dana makanan.

Sirigutta ingin mengetahui kebenaran cerita mengenai para Nigantha, apakah mereka sungguh-sungguh dapat mengetahui pikiran orang lain, dan sebagainya. Maka ia membuat sebuah parit yang dalam dan panjang dan dipenuhi dengan sampah dan kotoran. Tempat duduk kemudian ditempatkan dengan sembarangan di atas parit. Belanga-belanga kosong dan besar dibawa masuk dan ditutup dengan kain dan daun-daun pisang agar kelihatan seolah-olah penuh dengan nasi dan kari. Ketika pertapa-pertapa Nigantha tiba, mereka dipersilahkan untuk masuk satu persatu, untuk berdiri di dekat tempat duduk yang telah disiapkan, dan dipersilahkan duduk bersama-sama. Ketika mereka semua telah duduk, penutup parit tadi pecah dan pertapa-pertapa Nigantha jatuh ke dalam parit yang kotor. Kemudian Sirigutta bertanya kepada mereka, “Kenapa kalian tidak mengetahui masa lalu, saat ini, dan masa depan? Mengapa kalian tidak mengetahui pikiran orang lain?” Semua pertapa-pertapa Nigantha kemudian merasa dijebak.

Garahadinna sangat marah kepada Sirigutta dan menolak untuk berbicara dengannya selama dua minggu. Kemudian, ia memutuskan bahwa ia akan membalas perlakuan Sirigutta. Karena itu, ia berpura-pura kalau ia tidak marah lagi, dan suatu hari meminta Sirigutta untuk mengundang, atas permohonannya, Sang Buddha dan lima ratus muridNya untuk menerima persembahan dana makanan. Maka Sirigutta menghadap Sang Buddha dan mengundangNya untuk datang ke rumah Garahadinna. Pada saat yang bersamaan, ia menceritakan kepada Sang Buddha apa yang telah ia lakukan kepada pertapa-pertapa Nigantha, guru Garahadinna. Ia juga mengatakan rasa takutnya kalau undangan tersebut mungkin merupakan suatu jebakan dan karenanya undangan ini dapat diterima hanya dengan pertimbangan yang telah matang.

Sang Buddha, dengan kemampuan batinNya, mengetahui bahwa saat ini merupakan suatu kesempatan bagi kedua sahabat itu untuk mencapai tingkat kesucian Sotapatti, dan karenanya Beliau menerima undangan tersebut. Garahadinna membuat sebuah parit, dipenuhi dengan bara api yang menyala dan ditutup dengan karpet. Dia juga meletakkan belanga-belanga kosong yang ditutup dengan kain dan daun-daun pisang agar kelihatannya penuh dengan nasi dan kari. Keesokan harinya, Sang Buddha datang, diikuti oleh lima ratus bhikkhu lainnya dalam satu rombongan. Ketika Sang Buddha melangkah di atas karpet yang menutupi bara api yang menyala, karpet dan bara api tersebut tiba-tiba menghilang, dan lima ratus bunga teratai, setiap tangkainya sebesar sebuah roda kereta, mekar sebagai tempat duduk Sang Buddha dan murid-muridnya.

Melihat keajaiban ini, Garahadinna sangat cemas dan dia mengatakan kepada Sirigutta, “Tolonglah saya, teman. Bukan keinginan saya untuk membalas dendam, saya telah melakukan perbuatan yang salah. Rencana buruk saya tidak ada yang berpengaruh terhadap gurumu. Periuk-periuk yang ada di dapur semuanya kosong. Tolonglah saya”. Sirigutta kemudian berkata kepada Garahadinna untuk pergi dan melihat periuk-periuk tersebut. Ketika Garahadinna melihat semua periuk-periuknya telah berisi makanan, ia menjadi sangat kagum dan pada saat yang bersamaan juga menjadi sangat lega dan gembira. Maka, makanan tersebut kemudian disajikan kepada Sang Buddha dan murid-muridnya. Setelah makan, Sang Buddha menyatakan anumodana terhadap perbuatan baik itu dan berkata, “Mereka yang tidak peduli, kurang pengetahuan, tidak mengetahui kualitas yang khusus dari seorang Buddha, Dhamma, Sangha; dan karenanya mereka seperti orang yang buta. Tetapi orang bijaksana yang memiliki pengetahuan, seperti orang yang dapat melihat.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Seperti bunga teratai yang tumbuh di antara tumpukan sampah yang dibuang di tepi jalan raya; indah dan harum serta menimbulkan perasaan senang.

Demikian pula siswa Sang Buddha bersinar karena kebijaksanaannya, di antara para manusia yang hidup tertutup oleh kegelapan.

Pada akhir khotbah Dhamma tersebut, baik Sirigutta maupun Garahadinna berhasil mencapai tingkat kesucian Sotapatti.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production

Dhammapada Syair 57 – Kisah Godhika Thera

Ketika berdiam di Vihara Veluvana, Sang Buddha membabarkan syair kelima puluh tujuh dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada Godhika Thera.

Godhika Thera, pada suatu kesempatan, berlatih dengan tekun meditasi ketenangan dan pandangan terang, di atas lempengan sebuah batu di kaki gunung Isigili di Magadha. Ketika beliau telah mencapai konsentrasi penuh dari pikiran (jhana), beliau jatuh sakit; dan kondisi ini mempengaruhi latihannya. Dengan mengabaikan rasa sakitnya, dia tetap berlatih dengan keras; tetapi setiap kali beliau mencapai kemajuan, beliau akan jatuh sakit. Beliau mengalami hal ini sebanyak enam kali. Akhirnya, beliau memutuskan untuk berjuang keras menghadapi segala halangan hingga mencapai tingkat kesucian Arahat, walaupun untuk itu ia harus mengorbankan jiwa raganya. Jadi, tanpa beristirahat beliau melanjutkan meditasinya dengan rajin. Akhirnya beliau memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri dengan memotong lehernya sendiri dengan pisau. Dengan berkonsentrasi terhadap rasa sakit, beliau dapat memusatkan pikirannya dan mencapai tingkat kesucian Arahat, tepat sebelum beliau meninggal.

Ketika Mara mengetahui bahwa Godhika Thera telah meninggal dunia, ia mencoba untuk menemukan di mana Godhika Thera tersebut dilahirkan kembali, namun gagal. Maka, dengan menyamar sebagai seorang laki-laki muda, Mara menghadap Sang Buddha dan bertanya di mana Godhika Thera sekarang. Sang Buddha menjawab padanya, “Tidak ada manfaatnya bagimu untuk mengetahui keberadaan Godhika Thera. Setelah terbebas dari kekotoran-kekotoran batin, ia telah mencapai tingkat kesucian Arahat. Seseorang seperti kamu, Mara, dengan seluruh kekuatanmu tidak akan dapat menemukan ke mana para arahat pergi setelah meninggal dunia.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Mereka yang sempurna tingkah lakunya, selalu sadar sepenuhnya, terbebas dari noda, jejak dari para orang suci ini tidak dapat diikuti oleh Dewa Kematian (Mara).

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production