Dhammapada Syair 124: Kisah Kukkutamitta

Ketika berdiam di Vihara Jetavana, Sang Buddha membabarkan syair keseratus dua puluh empat dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada Kukkutamitta si pemburu dan keluarganya.

Di Rajagaha terdapat seorang putri orang kaya yang telah mencapai tingkat kesucian sotapatti pada usia yang masih muda. Suatu hari, Kukkutamitta, seorang pemburu datang ke kota dengan kereta untuk menjual daging rusa. Melihat Kukkutamitta, si pemburu itu, wanita kaya yang masih muda ini jatuh hati seketika.

Dia mengikuti Kukkutamitta, menikah dengannya dan berumah tangga di sebuah desa kecil. Dari hasil perkawinannya, lahirlah tujuh orang anak laki-laki, dan setelah tiba waktunya semua anak mereka menikah.

Suatu hari, Sang Buddha meninjau sekeliling alam kehidupan pada dini hari dengan kemampuan batin luar biasaNya. Beliau menemukan bahwa si pemburu, ketujuh putranya dan istri-istri mereka sudah memiliki kesiapan batin untuk mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Paginya, Sang Buddha pergi ke tempat di mana pemburu telah menyusun perangkap buruannya di dalam hutan. Sang Buddha meletakkan jejak kaki Beliau di dekat perangkap, lalu duduk di bawah semak-semak yang rindang, tidak jauh dari perangkap tersebut.

Ketika pemburu datang, dia melihat tidak ada binatang di dalam perangkap. Sebaliknya, dia melihat jejak kaki dan menduga bahwa seseorang telah datang sebelumnya dan melepaskan binatang tersebut.

Ketika dia melihat Sang Buddha duduk di bawah semak-semak yang rindang, dia mengira Beliaulah orang yang telah melepaskan binatang dari dalam perangkap. Dengan marah pemburu itu mengeluarkan busur dan anak panahnya untuk memanah Sang Buddha.

Tetapi sewaktu dia menarik anak panahnya, dia menjadi tidak bisa bergerak dan tetap berdiam pada posisi seperti patung.

Anak-anak pemburu itu menyusul dan menemukan ayah mereka. Mereka juga melihat Sang Buddha pada jarak tertentu dan mengira Beliau pastilah musuh ayah mereka. Mereka semua mengambil busur-busur dan anak-anak panah, dan mereka membidik Sang Buddha. Tetapi mereka juga tidak bisa bergerak dan menjadi seperti patung.

Ketika pemburu dan putra-putranya tidak kembali, istri pemburu menyusul mereka ke dalam hutan bersama dengan ketujuh menantunya.

Melihat suami dan semua anaknya dengan panah mereka membidik pada Sang Buddha, dia mengangkat kedua tangannya dan berteriak, “Jangan membunuh ayahku”.

Ketika sang suami mendengar kata-kata istrinya, dia berpikir: “Ini pastilah ayah mertua saya”, dan anak-anaknya berpikir: “Ini pastilah kakek kami”, dan kemudian cinta kasih timbul pada mereka.

Kemudian wanita itu berkata kepada mereka, “Singkirkan busur dan anak-anak panah kalian, dan beri penghormatan kepada ayah saya”.

Sang Buddha menyadari bahwa pada waktu itu, pikiran pemburu dan ketujuh anaknya telah melembut dan mereka tergerak menyingkirkan busur-busur dan anak-anak panah mereka. Setelah menyingkirkan busur-busur dan anak-anak panah mereka, mereka memberi penghormatan kepada Sang Buddha dan Sang Buddha menjelaskan ajaran Dhamma kepada mereka.

Akhirnya pemburu, ketujuh putranya, dan ketujuh menantunya, semua berjumlah lima belas, mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Kemudian Sang Buddha pulang kembali ke vihara, dan memberi tahu kepada Ananda Thera dan bhikkhu-bhikkhu lain perihal Kukkutamitta dan keluarganya yang telah mencapai tingkat sotapatti pada dini hari.

Para bhikkhu kemudian bertanya kepada Sang Buddha, “Bhante, apakah istri pemburu yang telah mencapai sotapanna, tidak bersalah melakukan pembunuhan; jika dia mengambilkan barang-barang seperti jaring, busur-busur, dan anak-anak panah untuk keperluan suaminya pada saat hendak berburu?”

Terhadap pertanyaan itu Sang Buddha menjawab, “Para bhikkhu, para sotapanna tidak membunuh, mereka tidak mengharapkan yang lain terbunuh. Istri pemburu itu hanya menuruti kemauan suaminya mengambil barang-barang untuknya. Seperti halnya tangan yang tidak luka, tangan itu tidak dapat dimasuki racun. Juga karena dia tidak mempunyai niat melakukan kejahatan, maka dia tidak melakukan kejahatan”.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 124 berikut:

Apabila seseorang tidak mempunyai luka di telapak tangannya, ia dapat memegang mangkok yang berisi racun, oleh karena racun tidak akan masuk ke dalam tubuhnya. Seseorang yang tidak melakukan perbuatan jahat tidak kuatir akan akibat dari perbuatan jahat.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production
Advertisements

Dhammapada Syair 118: Kisah Lajadevadhita

Ketika berdiam di Vihara Jetavana, Sang Buddha membabarkan syair keseratus delapan belas dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada Laja, seorang dewi.

Suatu ketika Mahakassapa Thera sedang berdiam di Gua Pippali dan berada dalam suasana batin khusuk bermeditasi mencapai konsentrasi tercerap (samapatti) selama tujuh hari. Segera setelah beliau bangun dari samapatti, beliau berkeinginan memberi kesempatan pada seseorang untuk mendanakan sesuatu kepada orang yang baru bangkit dari samapatti.

Beliau melihat keluar dan menemukan seorang pelayan muda sedang menabur jagung di halaman rumah. Maka thera berdiri di depan pintu rumahnya untuk menerima dana makanan. Wanita itu meletakkan seluruh jagungnya ke mangkuk thera. Ketika wanita itu pulang setelah mendanakan jagung kepada thera, dia dipatuk oleh seekor ular berbisa dan meninggal dunia. Dia terlahir kembali di alam Surga Tavatimsa dan dikenal sebagai Lajadevadhita. Laja berarti jagung.

Laja menyadari bahwa dia terlahir kembali di alam Surga Tavatimsa karena dia telah berdana jagung kepada Mahakassapa Thera, maka ia sangat menghormati Mahakassapa Thera. Kemudian Laja memutuskan, dia harus melakukan jasa baik kepada thera agar kebahagiaannya dapat bertahan. Jadi setiap pagi wanita itu pergi ke vihara tempat thera berdiam, menyapu halaman vihara, mengisi air kolam mandi, dan melakukan jasa-jasa lainnya.

Pada mulanya thera berpikir samanera-samanera yang melakukan pekerjaan tersebut. Tetapi pada suatu hari thera mengetahui yang melakukan pekerjaan tersebut adalah dewi. Kemudian thera memberi tahu dewi tersebut untuk tidak datang ke vihara itu lagi. Orang-orang akan membicarakan hal-hal yang tidak baik jika dia tetap datang ke vihara.

Mendengar hal itu Lajadevadhita sangat sedih, menangis dan memohon kepada thera, “Tolong jangan hancurkan kekayaan dan harta benda saya”.

Sang Buddha mendengar tangisannya dan kemudian mengirim cahaya dari kamar harum Beliau dan berkata kepada dewi tersebut, “Devadhita, itu adalah tugas muridKu Kussapa untuk melarangmu ke vihara, melakukan perbuatan baik adalah tugas seseorang yang berniat besar memperoleh buah perbuatan baik. Tetapi, sebagai seorang gadis, tidak patut untuk datang sendirian dan melakukan berbagai pekerjaan di vihara”.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 118 berikut:

Apabila seseorang telah melakukan perbuatan baik, hendaknya mengulangi perbuatan baik tersebut, ia akan merasa berbahagia dengan perbuatan baiknya karena kebaikan membawa kebahagiaan.

Lajadevadhita mencapai tingkat kesucian Sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production

Dhammapada Syair 116: Kisah Culekasataka

Ketika berdiam di Vihara Jetavana, Sang Buddha membabarkan syair keseratus enam belas dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada pasangan brahmana yang dikenal dengan nama Culekasataka.

Di Savatthi berdiam sepasang suami istri brahmana. Mereka hanya mempunyai sebuah pakaian luar yang digunakan oleh mereka berdua. Karena itu mereka dikenal dengan nama Ekasataka. Karena mereka hanya mempunyai sebuah pakaian luar, mereka tidak dapat keluar berdua pada saat yang bersamaan. Jadi, bila si istri pergi mendengarkan khotbah Sang Buddha pada siang hari maka si suami pergi pada malam hari.

Pada suatu malam, ketika brahmana mendengarkan khotbah Sang Buddha, seluruh badannya diliputi keriangan yang sangat menyenangkan dan timbul keinginan yang kuat untuk memberikan pakaian luar yang dikenakannya kepada Sang Buddha. Tetapi dia menyadari jika dia memberikan pakaian luar yang satu-satunya dia miliki berarti tidak ada lagi pakaian luar yang tertinggal buat dia dan istrinya. Dia ragu-ragu dan bimbang.

Malam jaga pertama dan malam jaga kedua pun berlalu, pada malam jaga ketiga brahmana berkata pada dirinya sendiri, “Jika saya bimbang dan ragu-ragu, saya tidak akan dapat menghindar terlahir ke empat alam rendah (Apaya), saya akan memberikan pakaian luar saya kepada Sang Buddha”.

Setelah berkata begitu, dia meletakkan pakaian luarnya ke kaki Sang Buddha dan dia berteriak, “Saya menang! Saya menang! Saya menang!”

Waktu itu Raja Pasenadi dari Kosala juga berada di antara para pendengar khotbah. Mendengar teriakan tersebut ia menyuruh pengawalnya untuk menyelidiki. Mengetahui perihal pemberian brahmana kepada Sang Buddha, raja berkomentar bahwa brahmana tersebut telah berbuat sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan oleh orang lain sehingga harus diberi penghargaan.

Raja memerintahkan pengawalnya untuk memberikan sepotong pakaian kepada brahmana sebagai hadiah atas keyakinan dan kedermawanannya. Brahmana menerimanya lalu memberikan lagi pakaian tersebut kepada Sang Buddha.

Dia mendapat hadiah lagi dari raja berupa dua potong pakaian. Brahmana memberikan lagi kedua potong pakaian kepada Sang Buddha dan dia memperoleh hadiah empat potong lagi.

Jadi dia memberikan kepada Sang Buddha apa saja yang diberikan raja kepadanya dan tiap kali raja melipat-duakan hadiahnya.

Akhirnya hadiah meningkat menjadi tiga puluh dua potong pakaian, brahmana mengambil satu potong untuknya dan satu potong untuk istrinya dan selebihnya diberikan kepada Sang Buddha.

Kemudian raja berkomentar lagi bahwa brahmana benar-benar melakukan suatu perbuatan yang sulit dan juga harus diberi hadiah yang pantas. Raja mengirim seorang utusan untuk membawa dua potong pakaian beludru yang berharga mahal dan memberikannya kepada brahmana.

Brahmana membuat kedua pakaian tersebut menjadi dua penutup tempat tidur dan meletakkan satu di kamar harum tempat Sang Buddha tidur, dan satunya lagi diletakkan di tempat para bhikkhu menerima dana makanan di rumah brahmana.

Ketika raja pergi berkunjung ke Vihara Jetavana untuk memberi penghormatan kepada Sang Buddha, raja melihat tutup tempat tidur beludru dan mengenalinya bahwa barang itu adalah pemberiannya kepada brahmana, dia merasa sangat senang. Kali ini, raja memberikan hadiah tujuh macam yang masing-masing berjumlah empat buah (sabbasatukka) yaitu empat ekor gajah, empat ekor kuda, empat orang pelayan wanita, empat orang pelayan laki-laki, empat orang pesuruh laki-laki, empat desa, dan empat ribu uang tunai.

Ketika para bhikkhu mendengar hal tersebut, mereka bertanya kepada Sang Buddha, “Bagaimana hal ini bisa terjadi, dalam kasus brahmana ini, perbuatan baik yang dilakukan saat ini menghasilkan pahala yang sangat cepat?”

Sang Buddha menjawab, “Jika brahmana memberikan baju luarnya pada malam jaga pertama dia akan diberi hadiah enam belas buah untuk tiap macam barang, jika dia memberi pada malam jaga kedua dia akan diberi delapan buah untuk tiap macam barang. Ketika dia memberikan pada malam jaga terakhir dia diberi hadiah empat buah untuk tiap macam barang.

Jadi, jika seseorang ingin berdana, lakukanlah secepatnya, jika seseorang menunda-nunda pahalanya datang perlahan dan hanya sebagian, Juga, jika seseorang terlalu lambat dalam melakukan perbuatan baik mungkin dia tidak akan sanggup untuk melakukannya secara keseluruhan, karena pikiran orang cenderung senang dengan melakukan perbuatan yang tidak baik”.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 116 berikut:

Bergegaslah melakukan perbuatan baik, dan bersihkan batin dari kejahatan, seseorang yang lambat dalam melakukan perbuatan baik, batinnya akan bergembira di dalam kejahatan.

 

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production

Dhammapada Syair 68 – Kisah Sumana, Sang Penjual Bunga

Ketika berdiam di Vihara Jetavana, Sang Buddha membabarkan syair keenam puluh delapan dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada Sumana, sang penjual bunga.

Seorang penjual bunga, bernama Sumana, harus mengirimkan bunga melati kepada Raja Bimbisara dari Rajagaha setiap paginya. Suatu hari, ketika ia akan pergi ke istana, ia melihat Sang Buddha, dengan pancaran sinar aura yang sangat terang, datang ke kota untuk berpindapatta bersama dengan beberapa bhikkhu. Melihat Sang Buddha yang sangat agung, penjual bunga Sumana sangat ingin mendanakan bunganya kepada Sang Buddha. Pada saat itu dan di tempat itu pula, ia memutuskan, meskipun raja akan mengusirnya dari kota ataupun membunuhnya, ia tidak akan memberikan bunganya kepada raja pada hari itu. Kemudian ia melemparkan bunganya ke samping, ke belakang, ke atas dan di atas kepala Sang Buddha. Bunga-bunga itu tetap melayang di udara; di atas kepala Sang Buddha membentuk payung dari bunga-bunga, di belakang dan di sisi tubuh beliau membentuk seperti dinding. Bunga-bunga ini terus mengikuti Sang Buddha ke mana saja Beliau berjalan, dan ikut berhenti ketika Beliau berhenti. Ketika Sang Buddha berjalan, dikelilingi dan dipayungi oleh bunga-bunga, dengan enam sinar aura yang memancar dari tubuhnya, diikuti oleh serombongan orang; ribuan orang dari dalam maupun dari luar kota Rajagaha, keluar dari rumah mereka untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha. Bagi Sumana sendiri, seluruh tubuhnya diliputi dengan kepuasan batin (piti).

Istri Sumana kemudian menghadap sang raja dan berkata bahwa ia tidak turut bertanggung jawab atas kesalahan suaminya, karena tidak mengirim bunga kepada raja hari itu. Raja yang telah mencapai tingkat kesucian Sotapanna merasa turut berbahagia. Ia keluar istana untuk melihat pemandangan yang menakjubkan itu dan memberikan penghormatan kepada Sang Buddha. Sang raja juga mengambil kesempatan untuk memberikan dana makanan kepada Sang Buddha dan murid-muridNya. Setelah makan siang, Sang Buddha kembali ke Vihara Jetavana dan raja mengikutinya sampai beberapa jauh. Sekembalinya ke istana, raja memanggil Sumana dan memberikan penghargaan kepadanya berupa delapan ekor gajah, delapan ekor kuda, delapan orang budak laki-laki, delapan orang budak wanita, delapan orang anak gadis, dan uang delapan ribu.

Di Vihara Jetavana, Yang Ariya Ananda bertanya kepada Sang Buddha, apa manfaat yang akan diperoleh Sumana dari perbuatan baik yang telah dilakukannya pada hari itu. Sang Buddha menjawab bahwa Sumana, yang telah memberikan dana kepada Sang Buddha tanpa memikirkan hidupnya, tidak akan dilahirkan di empat alam yang menyedihkan (Apaya) untuk beratus-ratus ribu kehidupan yang akan datang dan ia sesungguhnya akan menjadi seorang Paccekabuddha. Setelah itu, ketika Sang Buddha memasuki Gandhakuti, bunga-bunga itu jatuh dengan sendirinya.

Malam harinya, pada akhir khotbah Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Tetapi perbuatan-perbuatan baik yang telah dilakukan, tidak akan menimbulkan penyesalan, akibatnya akan dinikmati dengan kebahagiaan dan kegembiraan.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production

Dhammapada Syair 53 – Kisah Visakha

Ketika berdiam di Vihara Pubbarama di Savatthi, Sang Buddha membabarkan syair kelima puluh tiga dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada Visakha, donatur utama Vihara Pubbarama.

Visakha adalah anak perempuan seorang hartawan dari Bhaddiya bernama Danancaya, dan istrinya yang bernama Sumanadevi. Visakha juga merupakan cucu dari Mendaka, salah seorang dari lima hartawan paling kaya yang berada di wilayah kerajaan Raja Bimbisara. Ketika Visakha berusia tujuh tahun, Sang Buddha berkunjung ke Bhaddiya. Pada kesempatan itu, hartawan Mendaka mengajak Visakha bersama dengan lima ratus pengawalnya untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha. Setelah mendengarkan khotbah Dhamma dari Sang Buddha, Visakha, kakeknya beserta semua lima ratus pengawalnya mencapai tingkat kesucian Sotapatti.

Ketika Visakha dewasa, dia menikah dengan Punnavadahana, putra Migara, seorang hartawan dari Savatthi. Suatu hari, ketika Migara sedang makan siang, seorang bhikkhu berhenti untuk berpindapatta di depan rumahnya; tetapi Migara mengabaikan bhikkhu tersebut. Visakha, melihat hal ini, berkata kepada bhikkhu tersebut, “Maafkan saya, yang mulia bhikkhu, ayah mertua saya hanya makan makanan basi.” Mendengar hal ini, Migara menjadi sangat marah dan menyuruhnya untuk pergi. Tetapi Visakha mengatakan bahwa ia tidak akan pergi dan dia akan memanggil delapan wali yang dikirim oleh ayahnya untuk menemaninya dan menasehatinya. Wali-wali tersebutlah yang akan memutuskan apakah Visakha bersalah atau tidak bersalah. Ketika para wali telah berkumpul, Migara berkata pada mereka, “Ketika saya sedang makan nasi dan susu dengan mangkuk emas, Visakha mengatakan bahwa saya sedang makan makanan kotor dan basi. Untuk kesalahan itu, saya akan mengirimnya pulang.” Kemudian Visakha menjelaskan sebagai berikut: “Ketika saya melihat ayah mertua saya membiarkan seorang bhikkhu berdiri untuk berpindapatta, saya berpikir bahwa ayah mertua saya tidak melakukan perbuatan baik apa pun pada saat ini, beliau hanya memakan hasil dari perbuatan baiknya yang lampau. Maka, saya mengatakan, ‘Ayah mertua saya hanya makan makanan basi.’ Sekarang tuan-tuan, apakah yang anda pikir, apakah saya bersalah?” Para wali memutuskan bahwa Visakha tidak bersalah. Visakha kemudian mengatakan bahwa dia salah seorang yang memiliki keyakinan yang kuat dan tidak tergoyahkan pada ajaran Sang Buddha dan karenanya tidak dapat tinggal di rumah di mana para bhikkhu tidak diterima. Juga, apabila dia tidak diberikan izin untuk mengundang para bhikkhu ke rumah untuk menerima dana makanan dan persembahan lainnya, dia akan meninggalkan rumah tersebut. Maka Visakha memperoleh izin untuk mengundang Sang Buddha dan para bhikkhu lainnya ke rumah tersebut.

Keesokan harinya, Sang Buddha dan murid-muridNya diundang ke rumah Visakha. Ketika dana makanan siap disajikan, Visakha mengundang ayah mertuanya untuk bersama-sama mendanakan makanan tersebut, tetapi ayah mertuanya tidak datang. Setelah makan siang berakhir, sekali lagi dia mengundang ayah mertuanya, kali ini dengan pesan agar ayah mertuanya dapat datang untuk ikut mendengarkan khotbah Dhamma yang akan segera diberikan oleh Sang Buddha. Ayah mertuanya merasa bahwa tidak seharusnya dia menolak untuk kedua kalinya. Tetapi gurunya, pertapa Nigantha, tidak mengizinkannya pergi, tetapi mereka sepakat kalau ia dapat mendengarkan dari balik tirai. Setelah mendengar khotbah Sang Buddha, Migara mencapai tingkat kesucian Sotapatti. Dia sangat berterima kasih kepada Sang Buddha dan juga menantunya. Sebagai bentuk rasa terima kasihnya, ia menyatakan bahwa mulai saat ini Visakha akan menjadi seperti ibunya sendiri, dan Visakha kemudian dikenal sebagai Migaramata.

Visakha melahirkan sepuluh anak laki-laki dan sepuluh anak perempuan, dan sepuluh anak laki-laki dan sepuluh anak perempuan kemudian juga dilahirkan oleh setiap anak dan cucu-cucunya. Visakha memiliki sebuah perhiasan yang dihiasi dengan permata-permata yang mahal harganya, pemberian ayahnya pada hari pernikahannya. Suatu hari Visakha pergi ke Vihara Jetavana bersama para pengikutnya. Saat tiba di vihara, ia merasa bahwa perhiasannya sangat berat. Maka ia melepaskan perhiasannya itu, membungkusnya dengan selendang, dan memberikannya kepada pelayannya untuk dibawa dan dijaganya. Pelayan tersebut tidak sengaja meninggalkan perhiasan tersebut di vihara. Sudah menjadi kebiasaan Yang Ariya Ananda untuk menyimpan barang-barang yang ditinggalkan oleh para umat. Visakha mengirim kembali pelayannya ke vihara, berkata, “Pergi dan lihatlah perhiasan permata itu, tetapi jika Yang Ariya Ananda telah menemukan dan menyimpannya di suatu tempat, jangan bawa pulang kembali; saya mendanakan perhiasan permata itu kepada Yang Ariya Ananda.” Tetapi Yang Ariya Ananda tidak menerima dana tersebut. Maka Visakha memutuskan untuk menjual perhiasan tersebut dan kemudian akan mendanakan hasil penjualannya. Tetapi tidak ada seorang pun yang mampu membeli perhiasan tersebut. Akhirnya Visakha membelinya sendiri seharga sembilan crore dan satu lakh. Dengan uang ini, ia membangun sebuah vihara di bagian timur kota; vihara ini kemudian dikenal dengan nama Pubbarama.

Setelah upacara pelimpahan jasa, ia mengundang seluruh anggota keluarganya dan pada malam itu, ia mengatakan kepada mereka bahwa semua keinginannya telah terpenuhi dan ia tidak lagi mempunyai keinginan lebih. Kemudian sambil melantunkan lima syair kegembiraan, ia berputar mengelilingi vihara. Beberapa bhikkhu yang mendengarnya, mengira Visakha bernyanyi dan melaporkan kepada Sang Buddha bahwa Visakha tidak seperti biasanya, dan ia berkeliling vihara sambil menyanyi. Untuk hal ini, Sang Buddha menjawab, “Hari ini, Visakha telah memenuhi semua keinginannya di masa lampau maupun saat ini dan atas pencapaiannya tersebut, ia merasa gembira dan puas; Visakha sedang melantunkan beberapa syair kegembiraan; yang pasti ia tidak kehilangan akal sehatnya. Visakha, selama masa kehidupannya yang lampau, selalu menjadi seorang pendana yang murah hati dan bersemangat mendukung ajaran-ajaran para Buddha. Ia juga berkeinginan kuat untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik, dan telah melakukan banyak perbuatan bajik pada kehidupannya yang lampau, seperti seorang ahli bunga membuat banyak rangkaian bunga dari setumpuk bunga.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Seperti dari kumpulan bunga-bunga dapat dirangkai banyak karangan bunga, demikian pula dalam suatu kelahiran seorang manusia dapat melakukan banyak perbuatan baik.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production