Dhammapada Syair 32 – Kisah Nigamavasitissa Thera

etika berdiam di Vihara Jetavana, Sang Buddha membabarkan syair ketiga puluh dua dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada Nigamavasitissa Thera.

Nigamavasitissa lahir dan dibesarkan di suatu kota dagang kecil dekat Savatthi. Setelah menjadi seorang bhikkhu dia hidup dengan sederhana dengan mempunyai hanya sedikit keinginan. Untuk berpindapatta, beliau biasanya pergi ke desa tempat sanak saudaranya tinggal dan menerima apa yang disediakan untuknya. Nigamavasitissa selalu menjauhi perjamuan-perjamuan yang lebih besar. Meski ketika Anathapindika dan Raja Pasenadi dari Kosala mengadakan perjamuan dana makanan dalam jumlah besar kepada para bhikkhu, sang thera tidak mengikutinya.

Beberapa orang bhikkhu kemudian mulai membicarakan sang thera bahwa beliau lebih dekat dengan saudara-saudaranya dan tidak mempedulikan orang lain, bahkan Anathapindika dan Raja Pasenadi yang mengadakan perjamuan dana makanan dalam jumlah besar dan sebagainya. Ketika Sang Buddha menerima laporan ini, Beliau mengundang sang thera dan bertanya padanya. Sang thera dengan penuh hormat menjelaskan kepada Sang Buddha bahwa memang benar ia sering mengunjungi desanya, tetapi hanya pada saat berpindapatta. Ketika dia telah mendapatkan makanan yang cukup, dia tidak akan berjalan lebih jauh lagi, dan bahwa dia tidak pernah mempersoalkan apakah makanan itu enak atau tidak. Oleh karena itu, alih-alih menegurnya, Sang Buddha memuji tindakannya di hadapan para bhikkhu yang lain. Beliau juga berkata pada murid-muridNya bahwa hidup puas dengan hanya sedikit keinginan adalah sesuai dengan ajaran Buddha dan para Ariya, dan begitulah semua bhikkhu seharusnya, mencontoh tindakan Tissa Thera dari kota dagang kecil. Berkenaan dengan hal ini, Beliau kemudian menceritakan kisah raja burung nuri.

Pada masa dahulu kala, tinggallah raja burung nuri di lubang sebuah pohon besar yang tumbuh di pinggir Sungai Gangga, dengan sejumlah besar pengikutnya. Ketika buah-buahan telah habis dimakan, semua burung nuri pergi meninggalkan lubang tersebut, kecuali sang raja nuri, yang puas pada apa yang masih tersisa di pohon tempat tinggalnya itu, meski hanya tersisa kecambah, daun, ataupun kulit pohon. Sakka, mengetahui hal ini dan ingin menguji ketulusan raja nuri tersebut, mematikan pohon tersebut dengan kekuatannya yang luar biasa. Kemudian, dengan menyamar sebagai angsa, Sakka dan permaisurinya, Sujata, pergi ke tempat di mana raja nuri tersebut tinggal dan menanyakan kenapa dia tidak meninggalkan pohon tua yang telah mati tersebut seperti yang telah dilakukan nuri lainnya; mencari pohon lain yang berbuah lebat. Raja nuri menjawab, “Karena perasaan terima kasih kepada pohon ini, aku tidak akan meninggalkannya dan selama aku masih dapat makanan yang cukup untuk hidupku, aku tidak akan meninggalkannya. Akan tidak berterima kasih sekali jika aku meninggalkan pohon ini, meskipun pohon ini akan mati”.

Sangat terkesan dengan jawaban tersebut, Sakka menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Dia mengambil air dari Sungai Gangga dan menyiramkannya di sekitar pohon tersebut. Dan seketika pohon itu menjadi segar kembali, tumbuh kembali dengan cabang-cabang yang rimbun dan hijau, serta penuh dengan buah. Oleh karenanya, mereka yang bijaksana meskipun hanya seekor binatang tidak rakus, mereka puas dengan apa yang tersedia.

Raja nuri yang ada dalam kisah itu adalah Sang Buddha sendiri; Sakka adalah Anuruddha.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Bhikkhu yang berbahagia dalam kewaspadaan, dan ngeri terhadap kelengahan, tidak akan mengalami kegagalan; ia sudah dekat dengan Nibbana.

Tissa Thera berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat setelah khotbah Dhamma tersebut berakhir.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production

Dhammapada Syair 31 – Kisah Seorang Bhikkhu

Ketika berdiam di Vihara Jetavana, Sang Buddha membabarkan syair ketiga puluh satu dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada seorang bhikkhu.

Seorang bhikkhu, setelah memperoleh pelajaran meditasi dari Sang Buddha, pergi ke hutan untuk bermeditasi. Meskipun dia berlatih dengan sungguh-sungguh, dia hanya memperoleh kemajuan yang sangat kecil dalam latihan meditasinya. Akibatnya, ia menjadi sangat tertekan dan frustasi. Jadi dengan berpikir akan memperoleh petunjuk lebih mendalam dari Sang Buddha, dia meninggalkan hutan menuju Vihara Jetavana. Dalam perjalanannya, dia menemui nyala api yang sangat besar. Dia berlari menuju puncak gunung dan mencari dari mana asal api tersebut muncul. Seiring penyebaran api itu, ia menyadari seperti api yang membakar habis semuanya, begitu juga pandangan terang akan membakar semua belenggu kehidupan, besar dan kecil.

Sementara itu, dari Gandhakuti di Vihara Jetavana, Sang Buddha mengetahui apa yang dipikirkan oleh bhikkhu tersebut. Jadi Beliau, melalui kemampuan batinNya, menampakkan diri di hadapan bhikkhu tersebut dan berkata kepadanya. “Anakku,” Beliau berkata, “Engkau berada di jalan pikiran yang benar. Pertahankanlah! Semua makhluk harus membakar belenggu kehidupannya dengan pandangan terang.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Bhikkhu yang berbahagia dalam kewaspadaan, dan ngeri terhadap kelengahan, akan maju dalam usahanya mencapai Nibbana, seperti api yang membakar belenggu yang besar dan kecil.

Bhikkhu tersebut berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat setelah khotbah Dhamma tersebut berakhir.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production

Dhammapada Syair 30 – Kisah Magha

Ketika berdiam di Vihara Kutagara di dekat Vesali, Sang Buddha membabarkan syair ketiga puluh dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada Sakka, raja para dewa.

Pada suatu waktu, seorang Pangeran Licchavi, bernama Mahali, datang untuk mendengarkan khotbah Dhamma yang disampaikan oleh Sang Buddha. Khotbah yang dibabarkan adalah Sakkapanha Suttanta. Sang Buddha menceritakan tentang Sakka dengan nada yang mengalir dan bersemangat; maka Mahali kemudian berpikir bahwa Sang Buddha pasti pernah berjumpa dengan Sakka secara langsung. Untuk meyakinkan hal tersebut, dia bertanya kepada Sang Buddha, dan Sang Buddha menjawab, “Mahali, Saya memang mengenal Sakka; Saya juga mengetahui apa yang menyebabkan dia menjadi seorang Sakka”. Kemudian Beliau bercerita kepada Mahali bahwa Sakka, raja para dewa, pada kehidupannya yang lampau adalah seorang pemuda bernama Magha, yang tinggal di desa Macala. Pemuda Magha dan tiga puluh dua sahabatnya pergi untuk membangun jalan dan tempat tinggal. Magha juga bertekad untuk melakukan tujuh kewajiban. Tujuh kewajiban tersebut adalah kewajiban seumur hidupnya:

(1) Dia akan merawat kedua orang tuanya;

(2) Dia akan menghormati orang yang lebih tua;

(3) Dia akan berkata dengan sopan;

(4) Dia akan menghindari membicarakan orang lain;

(5) Dia tidak akan menjadi orang yang kikir, melainkan menjadi orang yang murah hati;

(6) Dia akan berkata jujur; dan

(7) Dia akan mengendalikan dirinya untuk tidak mudah marah.

Karena kelakuannya yang baik dan tingkah lakunya yang benar pada kehidupannya yang lampaulah, Magha dilahirkan kembali sebagai Sakka, raja para dewa.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Kasadaran selalu dipuji, kelengahan selalu dicela; dengan kewaspadaan, Magha telah menjadi pimpinan para dewa.

Pada akhir khotbah Dhamma tersebut, Mahali berhasil mencapai tingkat kesucian Sotapatti.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production

Dhammapada Syair 28 – Kisah Mahakassapa Thera

Ketika berdiam di Vihara Jetavana, Sang Buddha membabarkan syair kedua puluh delapan dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada Mahakassapa Thera.

Suatu waktu, ketika Mahakassapa Thera tinggal di gua Pipphali, beliau menghabiskan waktunya untuk mengembangkan kesadaran batin (aloka kasina) dan berusaha untuk melihat melalui kemampuan batin mata dewa, makhluk-makhluk yang waspada dan mereka yang tidak waspada, juga makhluk-makhluk yang akan mati dan mereka yang akan dilahirkan.

Dari vihara kediamanNya, Sang Buddha mengetahui melalui kemampuan batin mata dewa Beliau, apa yang sedang dilakukan oleh Mahakassapa Thera dan ingin mengingatkan padanya bahwa apa yang dia lakukan hanyalah menghabiskan waktunya. Maka Beliau, melalui kemampuan batinnya, menampakkan diri di depan thera tersebut dan bekata, “Anakku Kassapa, jumlah kelahiran dan kematian makhluk hidup tidak terhingga dan tidak dapat dihitung. Hal ini bukanlah perhatian utamamu untuk menghitungnya; hal ini adalah perhatian bagi para Buddha”.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Ketika orang bijaksana mengatasi kelengahan dengan kewaspadaan, ia seperti telah mencapai menara kebijaksanaan, maka ia melihat orang-orang bodoh bersedih tanpa rasa iba, sepertihalnya pendaki gunung yang melihat orang-orang yang berada di tempat yang lebih rendah.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production

Dhammapada Syair 25 – Kisah Culapanthaka

Kisah Culapanthaka

Ketika berdiam di Vihara Veluvana, Sang Buddha membabarkan syair kedua puluh lima dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada Culapanthaka, seorang cucu dari bendahara Rajagaha.

Bendahara kerajaan di Rajagaha mempunyai dua orang cucu laki-laki bernama Mahapanthaka dan Culapanthaka. Mahapanthaka, yang lebih tua, selalu menemani kakeknya mendengarkan khotbah Dhamma. Kemudian Mahapanthaka bergabung dalam Sangha dan dalam beberapa saat kemudian berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat. Culapanthaka mengikuti jejak kakaknya dan menjadi seorang bhikkhu pula. Tetapi, karena pada kehidupannya yang lampau pada masa keberadaan Buddha Kassapa, Culapanthaka telah mempermainkan seorang bhikkhu yang bodoh, maka dia dilahirkan sebagai seorang dungu pada kehidupannya saat ini. Dia bahkan tidak mampu mengingat satu syair pun dalam empat bulan. Mahapanthaka sangat kecewa dengan adiknya dan bahkan mengatakan bahwa adiknya tidak sesuai menjadi anggota Sangha.

Suatu waktu, Jivaka datang ke vihara untuk mengundang Sang Buddha beserta para bhikkhu lainnya untuk datang ke rumahnya dan menerima dana makanan. Mahapanthaka, yang diberi tugas untuk memberitahu para bhikkhu tentang dana makanan tersebut, mencoret Culapanthaka dari daftar. Ketika Culapanthaka mengetahui hal ini, dia merasa sangat kecewa dan memutuskan untuk kembali hidup sebagai seorang perumah tangga. Mengetahui keinginan tersebut, Sang Buddha membawanya dan memintanya duduk di depan ruang Gandhakuti. Kemudian Beliau memberikan selembar kain bersih kepada Culapanthaka dan berkata padanya untuk duduk menghadap ke Timur dan menggosok potongan kain tersebut. Pada saat bersamaan, dia juga harus mengulangi kata “Rajoharanam”, yang berarti “mengatasi kekotoran”. Sang Buddha kemudian pergi ke tempat kediaman Jivaka, ditemani para bhikkhu lainnya.

Culapanthaka mulai menggosok potongan kain tersebut, sambil terus mengucapkan kata “Rajoharanam”. Dalam waktu yang singkat, kain tersebut menjadi lusuh. Melihat perubahan yang terjadi pada kain tersebut, Culapanthaka segera menyadari ketidak-kekalan dari segala sesuatu yang berkondisi. Dari tempat kediaman Jivaka, Sang Buddha dengan kekuatan batinnya yang luar biasa, mengetahui perkembangan yang dicapai Culapanthaka. Beliau dengan kekuatan batinNya menampakkan diri di hadapan Culapanthaka, duduk di depannya, berkata:

Tidak hanya selembar kain tersebut yang dikotori oleh debu; dalam diri seseorang juga terdapat debu hawa nafsu (raga), debu keinginan jahat (dosa), dan debu ketidak-tahuan (moha), yakni ketidak-tahuan akan Empat Kebenaran Mulia. Hanya dengan menghapuskan hal-hal tersebut, seseorang dapat mencapai tujuannya dan mencapai Arahat”. Culapanthaka mendengarkan pesan tersebut dan meneruskan bermeditasi. Dalam waktu yang singkat, ia berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat, bersama dengan Pandangan Terang Analitis. Maka Culapanthaka tidak lagi menjadi orang dungu.

Di rumah Jivaka, para umat akan menuang air sebagai tanda melaksanakan dana; tetapi Sang Buddha menutup mangkoknya dengan tangannya dan bertanya bila masih ada bhikkhu yang tertinggal di vihara. Karena dijawab bahwa tidak ada bhikkhu yang tertinggal, Sang Buddha mangatakan bahwa masih ada satu orang bhikkhu yang tertinggal dan memerintahkan mereka untuk menjemput Culapanthaka di vihara. Ketika pembawa pesan dari rumah Jivaka tiba di vihara, dia menemukan tidak hanya satu orang bhikkhu, tetapi seribu orang bhikkhu yang serupa. Mereka semua diciptakan oleh Culapanthaka, yang sekarang telah memiliki kekuatan batin luar biasa. Utusan tersebut kebingungan dan dia pulang kembali melaporkan hal ini kepada Jivaka. Utusan itu kembali diutus ke vihara untuk kedua kalinya dan diperintahkan untuk mengatakan bahwa Sang Buddha mengundang bhikkhu yang bernama Culapanthaka. Tetapi ketika dia menyampaikan pesan tersebut, seribu suara menjawab, “Saya adalah Culapanthaka”. Dengan bingung, dia kembali ke rumah Jivaka untuk kedua kalinya. Kemudian untuk ketiga kalinya, dia disuruh kembali ke vihara. Kali ini, dia diperintahkan untuk membawa serta bhikkhu yang dilihatnya pertama kali mengatakan bahwa dia adalah Culapanthaka. Segera setelah dia memegang bhikkhu yang pertama menjawab, semua bhikkhu lainnya menghilang, dan Culapanthaka menemani utusan tersebut ke rumah Jivaka. Setelah dana makanan, seperti yang diminta oleh Sang Buddha, Culapanthaka menyampaikan khotbah Dhamma dengan jelas dan percaya diri, mengaum bagaikan seekor singa muda.

Kemudian ketika masalah Culapanthaka dibicarakan di antara para bhikkhu, Sang Buddha mengatakan bahwa seseorang yang rajin dan tetap teguh dalam perjuangannya, pasti akan mencapai tingkat kesucian Arahat.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Dengan kewaspadaan dan ketabahan, dengan kesabaran dan pengendalian diri, orang bijaksana membuat dirinya seperti pulau yang tidak dapat ditenggelamkan oleh banjir.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production

Dhammapada Syair 21, 22 & 23 – Kisah Samavati

Ketika berdiam di Vihara Ghosita di dekat Kosambi, Sang Buddha membabarkan syair kedua puluh satu, dua puluh dua, dan dua puluh tiga dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada Samavati, salah seorang permaisuri Raja Udena, Raja Kerajaan Kosambi.

Samavati memiliki lima ratus orang dayang yang tinggal bersamanya di istana. Ia juga mempunyai seorang dayang utama bernama Khujjuttara, yang setiap harinya bertugas untuk membeli bunga bagi Samavati dari penjual bunga bernama Sumana. Pada suatu saat, Khujjuttara memperoleh kesempatan untuk mendengarkan pembabaran Dhamma oleh Sang Buddha di kediaman Sumana dan ia mencapai tingkat kesucian Sotapatti. Semenjak hari itu, Khujjuttara tidak lagi menjalankan tugas sehari-harinya sebagai seorang dayang, melainkan menjadi seperti seorang ibu dan guru bagi Samavati. Ia mendengarkan khotbah Dhamma Sang Buddha dan mengulanginya kembali kepada Samavati dan para dayang lainnya. Dalam beberapa waktu, Khujjuttara berhasil menguasai Tipitaka.

Samavati dan para pengiringnya sangat berharap untuk dapat menemui Sang Buddha dan memberikan penghormatan kepada Beliau. Tetapi mereka takut jika sang raja tidak berkenan. Jadi, dengan membuat lubang di dinding istana mereka, mereka dapat melewatinya dan memberikan penghormatan kepada Sang Buddha setiap harinya; saat Beliau akan mengunjungi rumah tiga orang hartawan bernama Ghosaka, Kukkuta, dan Pavariya.

Pada waktu itu, Raja Udena juga memiliki seorang permaisuri lainnya yang bernama Magandiya. Ia adalah putri dari Magandiya, seorang brahmana. Sang brahmana melihat Sang Buddha pada suatu hari dan berpikir bahwa Sang Buddha-lah satu-satunya orang yang pantas bagi putrinya yang cantik luar biasa (sebelum ia menikah dengan Raja Udena). Jadi, ia segera membawa serta istri dan putrinya serta meminta Sang Buddha agar bersedia menerima putrinya sebagai istri. Mendengar permintaan tersebut, Sang Buddha berkata, “Bahkan setelah melihat Tanha, Arati dan Raga, putri-putri Mara, saya tidak lagi merasakan keinginan akan kesenangan indria; apalagi dengan dia yang penuh dengan air seni dan kotoran yang tidak ingin saya sentuh bahkan hanya dengan kaki saya”.

Mendengar kata-kata Sang Buddha, baik sang brahmana maupun istrinya mencapai Anagami Magga dan Phala. Mereka kemudian mempercayakan putrinya kepada saudaranya dan mereka sendiri bergabung dalam Sangha dan berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat. Sang Buddha telah mengetahui dari awal bahwa sang brahmana dan istrinya dapat mencapai tingkat kesucian Anagami pada saat itu, oleh karenanya Beliau menjawab sang brahmana dengan cara tersebut di atas. Namun demikian, sang putri Magandiya menjadi sangat terpukul dan terhina dan ia berjanji akan membalas dendam ketika kesempatannya tiba.

Kemudian, pamannya menyerahkan Magandiya kepada Raja Udena dan ia pun menjadi salah seorang permaisurinya. Magandiya mendengar berita kedatangan Sang Buddha dan tentang bagaimana Samavati serta para dayangnya memberikan penghormatan kepada Beliau melalui lubang di dinding istana tempat tinggal mereka. Jadi, ia berencana untuk membalas dendamnya kepada Sang Buddha dan menyakiti Samavati beserta para dayangnya yang memberikan penghormatan kepada Sang Buddha. Magandiya berkata kepada sang raja bahwa Samavati beserta para dayangnya telah membuat lubang-lubang di dinding istana tempat tinggal mereka dan bahwa mereka memiliki hubungan dengan orang luar dan tidak setia kepada sang raja. Raja Udena melihat lubang-lubang di dinding itu, namun ketika kebenarannya telah diungkapkan beliau tidak marah.

Namun Magandiya terus berusaha meyakinkan sang raja kalau Samavati tidak setia padanya dan berusaha untuk membunuhnya. Pada suatu saat, mengetahui bahwa sang raja akan mengunjungi Samavati dalam beberapa hari mendatang dan akan membawa sendiri kecapinya, Magandiya memasukkan seekor ular ke dalam kecapi tersebut dan menutupi lubangnya dengan seikat bunga. Magandiya mengikuti Raja Udena ke tempat tinggal Samavati setelah mencoba mengurungkan niat raja dengan mengatakan kalau ia merasakan keganjilan dan mengkhawatirkan keselamatan sang raja. Sesampainya di kediaman Samavati, Magandiya melepaskan rangkaian bunga dari lubang kecapinya. Ular itu keluar berdesis dan melingkar di atas tempat tidur. Ketika raja melihat ular itu ia jadi percaya akan perkataan Magandiya bahwa Samavati berusaha untuk membunuhnya. Raja sangat marah. Beliau memerintahkan Samavati untuk berdiri dan semua dayangnya berbaris di belakangnya. Kemudian sang raja mengambil busurnya beserta anak panah yang telah dilumuri racun dan menembakkannya. Tetapi Samavati dan para dayangnya tidak memiliki kehendak buruk pada rajanya dan melalui kekuatan cinta kasih (metta), anak panah tersebut berbalik arah, meskipun biasanya anak panah yang dilepaskan oleh sang raja selalu tepat mengenai sasaran bahkan menembus bongkahan batu. Kemudian, sang raja sadar kalau Samavati tidaklah bersalah dan ia memberikan izin kepada Samavati untuk mengundang Sang Buddha beserta para muridNya ke istana untuk menerima persembahan dana makanan dan membabarkan khotbah Dhamma.

Magandiya menyadari kalau tidak ada satupun rencananya yang berhasil, maka ia menyusun rencana yang terakhir dan tanpa cacat. Ia mengirimkan pesan kepada pamannya dengan petunjuk yang lengkap mengenai rencananya untuk kemudian pergi ke istana Samavati dan membakar seluruh istana tersebut beserta para penghuninya di dalam. Ketika istana tersebut terbakar, Samavati dan para dayangnya, yang berjumlah lima ratus orang, tetap bermeditasi. Kemudian, beberapa dari mereka berhasil mencapai tingkat kesucian Sakadagami dan yang lain berhasil mencapai tingkat kesucian Anagami.

Segera setelah berita kebakaran tersebut menyebar, raja pergi ke tempat kejadian tetapi beliau terlambat. Beliau mencurigai bahwa kejadian ini dilakukan oleh Magandiya, tetapi raja tidak menunjukkan kecurigaannya. Bahkan, beliau berkata, “Ketika Samavati masih hidup, saya selalu khawatir dan takut jika dia akan mencelakan saya. Sekarang, pikiranku lebih tenang. Siapa yang telah melakukan ini semua? Hal ini pasti hanya dilakukan oleh seseorang yang sangat mencintaiku”. Mendengar ini, Magandiya segera mengakui bahwa dialah yang telah memerintahkan pamannya untuk melakukan hal itu semua. Mendengar hal itu, sang raja berpura-pura sangat berterima kasih padanya dan mengatakan bahwa beliau akan memberikan penghargaan yang besar kepada Magandiya dan seluruh keluarganya. Kemudian, seluruh anggota keluarga Magandiya diundang dan mereka datang dengan senang hati. Setelah datang ke istana, mereka semua, termasuk Magandiya, ditangkap dan dibakar di halaman istana, atas perintah sang raja.

Ketika Sang Buddha mendengar dua kejadian tersebut, Beliau mengatakan bahwa mereka yang waspada tidak meninggal; akan tetapi mereka yang lengah adalah seperti orang meninggal meskipun dia masih hidup.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Kewaspadaan adalah jalan menuju kekekalan, kelengahan adalah jalan menuju kematian, mereka yang sadar tidak akan mati, mereka yang tidak sadar seperti orang mati.

Orang yang bijaksana, setelah memahami hal tersebut, mengembangkan kesadarannya, ia berbahagia menjalani kehidupan suci.

Para bijaksana yang bermeditasi dan tidak pernah berhenti berjuang, tetap tabah sehingga akhirnya terbebas dari segala kemelekatan dan mencapai Nibbana.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production