Dhammapada Syair 95 – Kisah Seorang Samanera dari Kosambi

Ketika berdiam di Vihara Jetavana, Sang Buddha membabarkan syair kesembilan puluh enam dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada seorang samanera, seorang murid Tissa Thera dari Kosambi.

Suatu ketika, seorang anak berumur tujuh tahun menjadi samanera atas permintaan ayahnya. Sebelum rambutnya dicukur, anak itu diberi sebuah pelajaran meditasi. Ketika rambut anak itu sedang dicukur, ia memusatkan pikirannya dengan teguh pada objek meditasi tersebut; sebagai hasilnya, ia berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat segera setelah rambutnya dicukur.

Beberapa waktu kemudian, Tissa Thera, disertai samanera muda tersebut, pergi ke Savatthi untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha. Di tengah perjalanan, mereka bermalam di sebuah vihara desa. Sang thera tertidur, tetapi samanera muda duduk sepanjang malam di samping kasur thera tua itu. Pada waktu fajar menyingsing, Tissa Thera berpikir bahwa sudah saatnya untuk membangunkan samanera muda. Jadi ia membangunkan samanera muda itu dengan sebuah kipas daun palem, dan secara tidak sengaja mata samanera terpukul oleh tangkai kipas hingga melukai matanya. Samanera menutup matanya dengan satu tangan dan pergi melaksanakan tugasnya untuk mempersiapkan air pencuci muka dan mulut Tissa Thera, menyapu lantai vihara, dan lain sebagainya. Ketika samanera muda mempersembahkan air dengan satu tangan kepada Tissa Thera, Tissa Thera menegurnya dan berkata bahwa ia seharusnya mempersembahkan dengan dua tangan. Hanya dengan demikian, Tissa Thera mengetahui tentang rusaknya mata sang samanera. Seketika itu pula, ia menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan terhadap seorang manusia yang sungguh mulia. Merasa sangat menyesal dan rendah, ia memohon maaf kepada sang samanera. Tetapi samanera berkata bahwa itu bukan kesalahan Tissa Thera, juga bukan kesalahannya sendiri, tapi merupakan akibat perbuatannya (karma) yang lampau, sehingga Tissa Thera tidak perlu lagi bersedih. Tetapi Tissa Thera tidak dapat mengatasi kekecewaan atas kesalahan yang tak dikehendakinya.

Kemudian mereka meneruskan perjalanan ke Savatthi dan sampai di Vihara Jetavana di mana Sang Buddha menetap. Tissa Thera kemudian berkata kepada Sang Buddha bahwa samanera muda yang datang bersamanya adalah seorang yang paling mulia yang pernah ia temui dan menceritakan segala yang terjadi dalam perjalanan mereka. Sang Buddha mendengarkan ceritanya, dan menjawab, “Anakku, seorang arahat tidak akan marah dengan siapapun, ia sudah mengendalikan indrianya dan memiliki ketenangan yang sempurna.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Seorang Arahat memiliki pikiran yang penuh kedamaian, ucapannya lembut, perbuatannya penuh ketenangan, telah mencapai kebebasan mutlak, batinnya selalu seimbang dan sungguh-sungguh tenang.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s