Dhammapada Syair 111 – Kisah Khanu-Kondanna

Ketika berdiam di Vihara Jetavana, Sang Buddha membabarkan syair keseratus sebelas dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada Khanu Kondanna.

Setelah menerima pelajaran meditasi dari Sang Buddha, Kondanna Thera pergi ke hutan untuk berlatih meditasi dan di sana, Kondanna berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat. Dalam perjalanan pulang untuk memberi penghormatan kepada Sang Buddha, Kondanna berhenti di tengah jalan karena beliau sangat lelah. Beliau duduk di atas lempengan batu besar dan mengkonsentrasikan pikirannya dalam jhana. Pada saat itu lima ratus orang perampok, setelah merampok sebuah desa besar datang ke tempat sang thera berada. Mengira bhikkhu itu sebagai tunggul pohon, mereka menaruh tumpukan barang rampokan mereka di sekitar tubuh beliau. Ketika hari mulai siang, mereka menyadari bahwa apa yang mereka kira sebagai tunggul pohon pada kenyataannya adalah makhluk hidup. Kemudian mereka juga mengira bahwa makhluk itu merupakan raksasa sehingga mereka lari ketakutan.

Kondanna menyatakan kepada mereka bahwa ia hanya seorang bhikkhu, bukan raksasa, dan berkata kepada mereka agar jangan takut. Perampok-perampok tersebut terpesona oleh kata-katanya dan memohon maaf atas kesalahan yang telah mereka perbuat. Tak lama kemudian, semua perampok memohon kepada Kondanna agar berkenan menerima mereka dalam pasamuan bhikkhu. Sejak saat itu, Kondanna Thera dikenal dengan nama “Khanu Kondanna” (Kondanna tunggul pohon).

Sang thera beserta bhikkhu-bhikkhu baru itu pergi menemui Sang Buddha dan menceritakan kepada beliau segala yang telah terjadi. Kepada mereka Sang Buddha berkata, “Hidup seratus tahun dalam ketidaktahuan, melakukan hal-hal yang bodoh, adalah tidak bermanfaat; sekarang kamu telah melihat kebenaran dan telah menjadi bijaksana, kehidupanmu sehari sebagai orang yang bijaksana jauh lebih bermanfaat.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Daripada hidup selama seratus tahun yang penuh dengan perbuatan jahat dan pikiran yang tidak terkendali, lebih baik hidup satu hari yang penuh dengan kebijaksanaan dan pikiran yang terkendali.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s