Dhammapada Syair 109 – Kisah Ayuvaddhanakumara

Ketika berdiam di sebuah vihara desa di dekat Dighalanghika, Sang Buddha membabarkan syair keseratus sembilan dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada Ayuvaddhanakumara.

Suatu waktu, ada dua orang pertapa yang tinggal bersama, berlatih pertapaan yang keras (tapacaranam) selama empat puluh delapan tahun. Kemudian, satu di antara dua pertapa itu meninggalkan kehidupan bertapa dan menikah. Setelah seorang anak laki-lakinya lahir, keluarga tersebut mengunjungi pertapa tua temannya dan memberi hormat kepadanya. Kepada kedua orang tua anak itu, sang pertapa berkata, “Semoga kalian panjang umur”, tetapi dia tidak berkata apa-apa kepada si anak. Kedua orang tua tersebut bingung dan bertanya kepada sang pertapa mengenai alasannya tidak berkata apa-apa tentang anak itu. Sang pertapa berkata kepada mereka bahwa anak tersebut hanya akan hidup tujuh hari lagi dan ia tidak tahu bagaimana untuk mencegah kematiannya, tetapi Buddha Gotama mungkin tahu bagaimana cara untuk mencegah hal itu.

Kemudian orang tua tersebut membawa anaknya menghadap Sang Buddha; ketika mereka memberi penghormatan kepada Sang Buddha, Beliau juga berkata, “Semoga kalian panjang umur” hanya kepada kedua orang tua itu dan tidak kepada anaknya. Sang Buddha juga memperkirakan kematian yang akan datang pada anak itu. Untuk mencegah kematiannya, Sang Buddha berkata kepada orang tua itu agar mereka membangun sebuah paviliun di depan pintu masuk rumah, dan menempatkan anak tersebut pada dipan di dalam paviliun. Kemudian beberapa bhikkhu diundang ke sana untuk membacakan paritta selama tujuh hari. Pada hari ketujuh Sang Buddha sendiri datang ke paviliun itu, para dewa dari seluruh alam semesta juga datang. Pada saat itu, raksasa Avaruddhaka berada di pintu masuk, menunggu kesempatan untuk membawa anak itu pergi. Tetapi karena kedatangan para dewa menyebabkan raksasa tersebut hanya dapat menunggu di suatu tempat yang jauhnya dua yojana dari anak tersebut. Sepanjang malam itu, pembacaan paritta dilaksanakan tanpa henti, yang melindungi anak tersebut. Hari berikutnya, anak tersebut diambil dari dipan dan memberikan penghormatan kepada Sang Buddha. Pada kesempatan ini, Sang Buddha berkata, “Semoga kamu panjang umur” kepada anak tersebut. Ketika ditanya berapa lama anak tersebut akan hidup, Sang Buddha menjawab bahwa ia akan hidup hingga berusia seratus dua puluh tahun. Kemudian anak tersebut diberi nama Ayuvaddhana.

Ketika anak tersebut tumbuh remaja, ia pergi berkeliling negeri dengan disertai lima ratus orang pengikut. Suatu hari, mereka datang ke Vihara Jetavana, dan para bhikkhu, mengenalinya, bertanya kepada Sang Buddha, “Bagi makhluk hidup, apakah ada cara-cara yang dapat dilakukan seseorang agar memiliki umur panjang?” Atas pertanyaan ini Sang Buddha menjawab, “Dengan menghormati dan menghargai yang lebih tua, dan mereka yang memiliki kebijaksanaan dan kesucian, seseorang akan memperoleh tidak hanya umur panjang, tetapi juga kecantikan, kebahagiaan, dan kekuatan.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Seseorang yang selalu menghormati dan menghargai mereka yang batinnya telah mencapai kesempurnaan, maka ia akan panjang umur, kulitnya menjadi cemerlang, tubuhnya menjadi semakin sehat dan kuat, hidupnya akan semakin bahagia.

Pada akhir khotbah Dhamma tersebut, Ayuvaddhana beserta lima ratus pengikutnya berhasil mencapai tingkat kesucian Sotapatti.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s