Dhammapada Syair 107 – Kisah Keponakan Sariputta Thera

Ketika berdiam di Vihara Veluvana, Sang Buddha membabarkan syair keseratus tujuh dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada keponakan Sariputta Thera.

Pada suatu kesempatan, Sariputta Thera bertanya kepada keponakannya, seorang brahmana, apakah ia telah melakukan perbuatan-perbuatan baik. Keponakannya menjawab bahwa ia telah mengorbankan seekor kambing ke dalam api pemujaan setiap bulannya, dan berharap agar dapat terlahir kembali di alam brahma pada kehidupannya yang akan datang. Sariputta Thera kemudian menjelaskan kepadanya bahwa gurunya telah memberikan harapan yang salah dan mereka sendiri pun tidak mengetahui jalan menuju alam brahma.

Kemudian Sariputta Thera membawa keponakannya, sang brahmana muda, menghadap Sang Buddha. Di sana, Sang Buddha mengajarkan Dhamma yang dapat menuntun seseorang menuju ke alam brahma dan berkata kepada sang brahmana, “Brahmana muda, memberikan penghormatan kepada seorang bhikkhu untuk sesaat saja akan jauh lebih baik daripada memberikan kurban untuk api pemujaan selama seratus tahun.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Seseorang menyembah api selama 100 tahun dalam hutan, akan tetapi apabila ia menghormati seorang Arahat yang penuh pengendalian diri, maka penghormatan tersebut jauh lebih baik dari menyembah api selama 100 tahun.

Sang brahmana muda, keponakan Sariputta Thera, berhasil mencapai tingkat kesucian Sotapatti setelah khotbah Dhamma tersebut berakhir.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s