Dhammapada Syair 25 – Kisah Culapanthaka

Kisah Culapanthaka

Ketika berdiam di Vihara Veluvana, Sang Buddha membabarkan syair kedua puluh lima dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada Culapanthaka, seorang cucu dari bendahara Rajagaha.

Bendahara kerajaan di Rajagaha mempunyai dua orang cucu laki-laki bernama Mahapanthaka dan Culapanthaka. Mahapanthaka, yang lebih tua, selalu menemani kakeknya mendengarkan khotbah Dhamma. Kemudian Mahapanthaka bergabung dalam Sangha dan dalam beberapa saat kemudian berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat. Culapanthaka mengikuti jejak kakaknya dan menjadi seorang bhikkhu pula. Tetapi, karena pada kehidupannya yang lampau pada masa keberadaan Buddha Kassapa, Culapanthaka telah mempermainkan seorang bhikkhu yang bodoh, maka dia dilahirkan sebagai seorang dungu pada kehidupannya saat ini. Dia bahkan tidak mampu mengingat satu syair pun dalam empat bulan. Mahapanthaka sangat kecewa dengan adiknya dan bahkan mengatakan bahwa adiknya tidak sesuai menjadi anggota Sangha.

Suatu waktu, Jivaka datang ke vihara untuk mengundang Sang Buddha beserta para bhikkhu lainnya untuk datang ke rumahnya dan menerima dana makanan. Mahapanthaka, yang diberi tugas untuk memberitahu para bhikkhu tentang dana makanan tersebut, mencoret Culapanthaka dari daftar. Ketika Culapanthaka mengetahui hal ini, dia merasa sangat kecewa dan memutuskan untuk kembali hidup sebagai seorang perumah tangga. Mengetahui keinginan tersebut, Sang Buddha membawanya dan memintanya duduk di depan ruang Gandhakuti. Kemudian Beliau memberikan selembar kain bersih kepada Culapanthaka dan berkata padanya untuk duduk menghadap ke Timur dan menggosok potongan kain tersebut. Pada saat bersamaan, dia juga harus mengulangi kata “Rajoharanam”, yang berarti “mengatasi kekotoran”. Sang Buddha kemudian pergi ke tempat kediaman Jivaka, ditemani para bhikkhu lainnya.

Culapanthaka mulai menggosok potongan kain tersebut, sambil terus mengucapkan kata “Rajoharanam”. Dalam waktu yang singkat, kain tersebut menjadi lusuh. Melihat perubahan yang terjadi pada kain tersebut, Culapanthaka segera menyadari ketidak-kekalan dari segala sesuatu yang berkondisi. Dari tempat kediaman Jivaka, Sang Buddha dengan kekuatan batinnya yang luar biasa, mengetahui perkembangan yang dicapai Culapanthaka. Beliau dengan kekuatan batinNya menampakkan diri di hadapan Culapanthaka, duduk di depannya, berkata:

Tidak hanya selembar kain tersebut yang dikotori oleh debu; dalam diri seseorang juga terdapat debu hawa nafsu (raga), debu keinginan jahat (dosa), dan debu ketidak-tahuan (moha), yakni ketidak-tahuan akan Empat Kebenaran Mulia. Hanya dengan menghapuskan hal-hal tersebut, seseorang dapat mencapai tujuannya dan mencapai Arahat”. Culapanthaka mendengarkan pesan tersebut dan meneruskan bermeditasi. Dalam waktu yang singkat, ia berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat, bersama dengan Pandangan Terang Analitis. Maka Culapanthaka tidak lagi menjadi orang dungu.

Di rumah Jivaka, para umat akan menuang air sebagai tanda melaksanakan dana; tetapi Sang Buddha menutup mangkoknya dengan tangannya dan bertanya bila masih ada bhikkhu yang tertinggal di vihara. Karena dijawab bahwa tidak ada bhikkhu yang tertinggal, Sang Buddha mangatakan bahwa masih ada satu orang bhikkhu yang tertinggal dan memerintahkan mereka untuk menjemput Culapanthaka di vihara. Ketika pembawa pesan dari rumah Jivaka tiba di vihara, dia menemukan tidak hanya satu orang bhikkhu, tetapi seribu orang bhikkhu yang serupa. Mereka semua diciptakan oleh Culapanthaka, yang sekarang telah memiliki kekuatan batin luar biasa. Utusan tersebut kebingungan dan dia pulang kembali melaporkan hal ini kepada Jivaka. Utusan itu kembali diutus ke vihara untuk kedua kalinya dan diperintahkan untuk mengatakan bahwa Sang Buddha mengundang bhikkhu yang bernama Culapanthaka. Tetapi ketika dia menyampaikan pesan tersebut, seribu suara menjawab, “Saya adalah Culapanthaka”. Dengan bingung, dia kembali ke rumah Jivaka untuk kedua kalinya. Kemudian untuk ketiga kalinya, dia disuruh kembali ke vihara. Kali ini, dia diperintahkan untuk membawa serta bhikkhu yang dilihatnya pertama kali mengatakan bahwa dia adalah Culapanthaka. Segera setelah dia memegang bhikkhu yang pertama menjawab, semua bhikkhu lainnya menghilang, dan Culapanthaka menemani utusan tersebut ke rumah Jivaka. Setelah dana makanan, seperti yang diminta oleh Sang Buddha, Culapanthaka menyampaikan khotbah Dhamma dengan jelas dan percaya diri, mengaum bagaikan seekor singa muda.

Kemudian ketika masalah Culapanthaka dibicarakan di antara para bhikkhu, Sang Buddha mengatakan bahwa seseorang yang rajin dan tetap teguh dalam perjuangannya, pasti akan mencapai tingkat kesucian Arahat.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Dengan kewaspadaan dan ketabahan, dengan kesabaran dan pengendalian diri, orang bijaksana membuat dirinya seperti pulau yang tidak dapat ditenggelamkan oleh banjir.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production

Dhammapada Syair 24 – Kisah Kumbhaghosaka, Seorang Bendahara

Ketika berdiam di Vihara Veluvana, Sang Buddha membabarkan syair kedua puluh empat dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada Kumbhaghosaka, sang bendahara.

Suatu ketika ada suatu wabah penyakit menular menyerang kota Rajagaha. Di rumah bendahara kerajaan, para pelayan banyak yang meninggal akibat wabah tersebut. Bendahara dan istrinya juga terkena wabah tersebut. Ketika mereka berdua jatuh sakit akibat wabah tersebut, mereka berkata pada anaknya Kumbhaghosaka untuk pergi meninggalkan mereka dan menjauh dari rumah dan kembali lagi setelah jangka waktu yang lama. Mereka juga mengatakan kepada Kumbhaghosaka bahwa mereka telah mengubur harta senilai empat puluh crore di suatu tempat. Kumbhaghosaka pergi meninggalkan kota dan tinggal di hutan selama dua belas tahun dan kemudian kembali lagi ke kota asalnya.

Pada saat itu, Kumbhaghosaka telah tumbuh menjadi seorang pemuda dan tidak seorang pun di kota yang mengenalinya. Dia pergi ke tempat di mana harta keluarganya disembunyikan dan menemukannya masih dalam keadaan utuh. Tetapi dia menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengenalinya lagi. Jika dia menggali harta tersebut dan menggunakannya, masyarakat mungkin berpikir seorang lelaki miskin secara tidak sengaja telah menemukan harta karun dan mereka mungkin akan melaporkannya kepada raja. Dalam hal ini, hartanya akan disita dan dia sendiri mungkin akan ditangkap dan dipenjara. Maka dia memutuskan untuk sementara waktu ini tidak menggali harta tersebut dan untuk sementara dia harus mencari pekerjaan untuk membiayai hidupnya. Dengan mengenakan pakaian lusuh, Kumbhaghosaka mencari pekerjaan. Dia mendapatkan pekerjaan untuk membangunkan orang awal di pagi hari dan berkeliling memberitahukan saat-saat untuk menyediakan makanan, untuk menyiapkan kereta, untuk menyiapkan kerbau, dan tugas lain sebagainya.

Suatu pagi, Raja Bimbisara mendengar suara orang membangunkannya. Raja, yang dapat membedakan suara seseorang dengan baik, berkata, “Ini adalah suara dari seorang laki-laki yang kaya”. Seorang dayang, mendengar komentar sang raja, mengirimkan seorang penyelidik untuk menyelidikinya. Sang penyelidik melaporkan bahwa pemuda itu hanyalah seorang tenaga kasar. Mengesampingkan laporan ini, raja kembali berkomentar hal yang sama selama dua hari berturut-turut. Sekali lagi, penyelidikan dilakukan dengan hasil yang tetap sama. Sang dayang berpikir bahwa hal ini sangatlah ganjil, maka dia memohon kepada raja agar memberikan ijin kepadanya untuk pergi dan menyelidiki hal ini sendiri.

Menyamar sebagai orang desa, sang dayang beserta putrinya pergi ke tempat tinggal para buruh. Dengan mengatakan bahwa mereka sedang berkelana, mereka memohon izin agar dapat bernaung dan memperoleh kesempatan untuk bermalam di rumah Kumbhaghosaka hanya untuk satu malam. Namun demikian, mereka berencana untuk memperpanjang masa tinggal di sana. Selama masa itu, dua kali raja telah mengumumkan bahwa sebuah upacara akan diselenggarakan di tempat tinggal para buruh, dan karenanya setiap kepala rumah tangga harus memberikan sumbangan. Kumbhaghosaka tidak mempunyai uang untuk turut menyumbang. Maka dia terpaksa menggunakan beberapa koin (kahapana) dari harta simpanannya. Ketika koin-koin tersebut diserahkan kepada sang dayang, dia menukarkannya dengan uangnya dan kemudian mengirimkan koin-koin itu kepada sang raja. Setelah beberapa waktu, dayang tersebut mengirimkan pesan kepada raja untuk mengirimkan orang dan memanggil Kumbhaghosaka ke pengadilan. Kumbhaghosaka, dengan terpaksa, pergi bersama orang-orang tersebut. Sang dayang beserta putrinya juga pergi ke istana, berjalan di depan mereka.

Di istana, raja menyuruh Kumbhaghosaka untuk menceritakan kejadian sebenarnya dan menjamin kalau ia tidak akan disakiti. Kumbhaghosaka kemudian mengakui bahwa kahapana itu adalah miliknya dan juga bahwa ia adalah putra dari seorang bendahara di Rajagaha, yang meninggal karena wabah penyakit dua belas tahun yang lalu. Dia kemudian juga menceritakan tentang tempat di mana harta karun tersebut disembunyikan. Akhirnya, semua harta karun tersebut dibawa ke istana; sang raja mengangkatnya menjadi seorang bendahara dan menikahkan putrinya dengan Kumbhaghosaka.

Setelah itu, dengan membawa Kumbhaghosaka bersamanya, sang raja mengunjungi Sang Buddha di Vihara Veluvana dan menceritakan kepada Beliau tentang bagaimana pemuda tersebut, yang meskipun kaya raya, berusaha mencukupi kebutuhan hidupnya dengan bekerja sebagai seorang pekerja kasar, dan bagaimana kemudian dia diangkat menjadi seorang bendahara.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Tabah dan penuh perhatian, suci dalam setiap perbuatan, hati-hati dalam setiap tingkah laku, mengendalikan diri dengan baik, dan hidup secara benar, maka orang yang selalu sadar ini akan maju dengan cepat.

Di akhir pembabaran Dhamma ini, Kumbhaghosaka berhasil mencapai tingkat kesucian Sotapatti.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production

Dhammapada Syair 21, 22 & 23 – Kisah Samavati

Ketika berdiam di Vihara Ghosita di dekat Kosambi, Sang Buddha membabarkan syair kedua puluh satu, dua puluh dua, dan dua puluh tiga dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada Samavati, salah seorang permaisuri Raja Udena, Raja Kerajaan Kosambi.

Samavati memiliki lima ratus orang dayang yang tinggal bersamanya di istana. Ia juga mempunyai seorang dayang utama bernama Khujjuttara, yang setiap harinya bertugas untuk membeli bunga bagi Samavati dari penjual bunga bernama Sumana. Pada suatu saat, Khujjuttara memperoleh kesempatan untuk mendengarkan pembabaran Dhamma oleh Sang Buddha di kediaman Sumana dan ia mencapai tingkat kesucian Sotapatti. Semenjak hari itu, Khujjuttara tidak lagi menjalankan tugas sehari-harinya sebagai seorang dayang, melainkan menjadi seperti seorang ibu dan guru bagi Samavati. Ia mendengarkan khotbah Dhamma Sang Buddha dan mengulanginya kembali kepada Samavati dan para dayang lainnya. Dalam beberapa waktu, Khujjuttara berhasil menguasai Tipitaka.

Samavati dan para pengiringnya sangat berharap untuk dapat menemui Sang Buddha dan memberikan penghormatan kepada Beliau. Tetapi mereka takut jika sang raja tidak berkenan. Jadi, dengan membuat lubang di dinding istana mereka, mereka dapat melewatinya dan memberikan penghormatan kepada Sang Buddha setiap harinya; saat Beliau akan mengunjungi rumah tiga orang hartawan bernama Ghosaka, Kukkuta, dan Pavariya.

Pada waktu itu, Raja Udena juga memiliki seorang permaisuri lainnya yang bernama Magandiya. Ia adalah putri dari Magandiya, seorang brahmana. Sang brahmana melihat Sang Buddha pada suatu hari dan berpikir bahwa Sang Buddha-lah satu-satunya orang yang pantas bagi putrinya yang cantik luar biasa (sebelum ia menikah dengan Raja Udena). Jadi, ia segera membawa serta istri dan putrinya serta meminta Sang Buddha agar bersedia menerima putrinya sebagai istri. Mendengar permintaan tersebut, Sang Buddha berkata, “Bahkan setelah melihat Tanha, Arati dan Raga, putri-putri Mara, saya tidak lagi merasakan keinginan akan kesenangan indria; apalagi dengan dia yang penuh dengan air seni dan kotoran yang tidak ingin saya sentuh bahkan hanya dengan kaki saya”.

Mendengar kata-kata Sang Buddha, baik sang brahmana maupun istrinya mencapai Anagami Magga dan Phala. Mereka kemudian mempercayakan putrinya kepada saudaranya dan mereka sendiri bergabung dalam Sangha dan berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat. Sang Buddha telah mengetahui dari awal bahwa sang brahmana dan istrinya dapat mencapai tingkat kesucian Anagami pada saat itu, oleh karenanya Beliau menjawab sang brahmana dengan cara tersebut di atas. Namun demikian, sang putri Magandiya menjadi sangat terpukul dan terhina dan ia berjanji akan membalas dendam ketika kesempatannya tiba.

Kemudian, pamannya menyerahkan Magandiya kepada Raja Udena dan ia pun menjadi salah seorang permaisurinya. Magandiya mendengar berita kedatangan Sang Buddha dan tentang bagaimana Samavati serta para dayangnya memberikan penghormatan kepada Beliau melalui lubang di dinding istana tempat tinggal mereka. Jadi, ia berencana untuk membalas dendamnya kepada Sang Buddha dan menyakiti Samavati beserta para dayangnya yang memberikan penghormatan kepada Sang Buddha. Magandiya berkata kepada sang raja bahwa Samavati beserta para dayangnya telah membuat lubang-lubang di dinding istana tempat tinggal mereka dan bahwa mereka memiliki hubungan dengan orang luar dan tidak setia kepada sang raja. Raja Udena melihat lubang-lubang di dinding itu, namun ketika kebenarannya telah diungkapkan beliau tidak marah.

Namun Magandiya terus berusaha meyakinkan sang raja kalau Samavati tidak setia padanya dan berusaha untuk membunuhnya. Pada suatu saat, mengetahui bahwa sang raja akan mengunjungi Samavati dalam beberapa hari mendatang dan akan membawa sendiri kecapinya, Magandiya memasukkan seekor ular ke dalam kecapi tersebut dan menutupi lubangnya dengan seikat bunga. Magandiya mengikuti Raja Udena ke tempat tinggal Samavati setelah mencoba mengurungkan niat raja dengan mengatakan kalau ia merasakan keganjilan dan mengkhawatirkan keselamatan sang raja. Sesampainya di kediaman Samavati, Magandiya melepaskan rangkaian bunga dari lubang kecapinya. Ular itu keluar berdesis dan melingkar di atas tempat tidur. Ketika raja melihat ular itu ia jadi percaya akan perkataan Magandiya bahwa Samavati berusaha untuk membunuhnya. Raja sangat marah. Beliau memerintahkan Samavati untuk berdiri dan semua dayangnya berbaris di belakangnya. Kemudian sang raja mengambil busurnya beserta anak panah yang telah dilumuri racun dan menembakkannya. Tetapi Samavati dan para dayangnya tidak memiliki kehendak buruk pada rajanya dan melalui kekuatan cinta kasih (metta), anak panah tersebut berbalik arah, meskipun biasanya anak panah yang dilepaskan oleh sang raja selalu tepat mengenai sasaran bahkan menembus bongkahan batu. Kemudian, sang raja sadar kalau Samavati tidaklah bersalah dan ia memberikan izin kepada Samavati untuk mengundang Sang Buddha beserta para muridNya ke istana untuk menerima persembahan dana makanan dan membabarkan khotbah Dhamma.

Magandiya menyadari kalau tidak ada satupun rencananya yang berhasil, maka ia menyusun rencana yang terakhir dan tanpa cacat. Ia mengirimkan pesan kepada pamannya dengan petunjuk yang lengkap mengenai rencananya untuk kemudian pergi ke istana Samavati dan membakar seluruh istana tersebut beserta para penghuninya di dalam. Ketika istana tersebut terbakar, Samavati dan para dayangnya, yang berjumlah lima ratus orang, tetap bermeditasi. Kemudian, beberapa dari mereka berhasil mencapai tingkat kesucian Sakadagami dan yang lain berhasil mencapai tingkat kesucian Anagami.

Segera setelah berita kebakaran tersebut menyebar, raja pergi ke tempat kejadian tetapi beliau terlambat. Beliau mencurigai bahwa kejadian ini dilakukan oleh Magandiya, tetapi raja tidak menunjukkan kecurigaannya. Bahkan, beliau berkata, “Ketika Samavati masih hidup, saya selalu khawatir dan takut jika dia akan mencelakan saya. Sekarang, pikiranku lebih tenang. Siapa yang telah melakukan ini semua? Hal ini pasti hanya dilakukan oleh seseorang yang sangat mencintaiku”. Mendengar ini, Magandiya segera mengakui bahwa dialah yang telah memerintahkan pamannya untuk melakukan hal itu semua. Mendengar hal itu, sang raja berpura-pura sangat berterima kasih padanya dan mengatakan bahwa beliau akan memberikan penghargaan yang besar kepada Magandiya dan seluruh keluarganya. Kemudian, seluruh anggota keluarga Magandiya diundang dan mereka datang dengan senang hati. Setelah datang ke istana, mereka semua, termasuk Magandiya, ditangkap dan dibakar di halaman istana, atas perintah sang raja.

Ketika Sang Buddha mendengar dua kejadian tersebut, Beliau mengatakan bahwa mereka yang waspada tidak meninggal; akan tetapi mereka yang lengah adalah seperti orang meninggal meskipun dia masih hidup.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Kewaspadaan adalah jalan menuju kekekalan, kelengahan adalah jalan menuju kematian, mereka yang sadar tidak akan mati, mereka yang tidak sadar seperti orang mati.

Orang yang bijaksana, setelah memahami hal tersebut, mengembangkan kesadarannya, ia berbahagia menjalani kehidupan suci.

Para bijaksana yang bermeditasi dan tidak pernah berhenti berjuang, tetap tabah sehingga akhirnya terbebas dari segala kemelekatan dan mencapai Nibbana.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production

Dhammapada Syair 19 & 20 – Kisah Dua Orang Sahabat

Ketika berdiam di Vihara Jetavana, Sang Buddha membabarkan syair kesembilan belas dan kedua puluh dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada dua orang bhikkhu yang saling bersahabat.

Suatu ketika terdapat dua orang sahabat yang berasal dari keluarga terpandang, dua bhikkhu dari Savatthi. Salah seorang dari mereka mempelajari Tipitaka dan sangat pandai dalam menguraikan dan membabarkan naskah-naskah suci. Dia mengajar lima ratus bhikkhu dan menjadi pembimbing bagi delapan belas kelompok bhikkhu. Bhikkhu lainnya berusaha keras, tekun, dan rajin dalam praktek meditasi, sehingga ia mencapai tingkat kesucian Arahat dengan pandangan sempurna.

Pada suatu kesempatan, ketika bhikkhu kedua datang untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha di Vihara Jetavana, kedua bhikkhu tersebut bertemu. Sang bhikkhu ahli Tipitaka tidak menyadari bahwa bhikkhu sahabatnya telah menjadi seorang Arahat. Dia memandang rendah bhikkhu kedua itu dengan berpikir bahwa bhikkhu tua ini hanya mengetahui sedikit mengenai naskah-naskah suci, bahkan tidak satupun dari lima Nikaya atau satupun dari tiga Pitaka. Jadi dia berpikir akan mengajukan pertanyaan kepada sahabatnya sehingga dapat membuatnya malu. Sang Buddha mengetahui tentang niat tidak baik itu dan beliau juga mengetahui bahwa sebagai akibat dari perbuatan buruk terhadap muridnya yang telah mencapai Arahat, bhikkhu yang masih dalam tahap pembelajaran itu akan terlahir kembali di alam kehidupan yang lebih rendah.

Dengan dilandasi kasih sayang, Sang Buddha mengunjungi kedua bhikkhu tersebut untuk mencegah sang terpelajar bertanya kepada bhikkhu sahabatnya. Sang Buddha sendiri yang memberikan pertanyaan. Beliau bertanya perihal jhana dan magga kepada ahli Tipitaka; tetapi dia tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut karena dia tidak pernah mempraktekkan apa yang telah diperolehnya. Bhikkhu sahabatnya yang telah mempraktekkan Dhamma dan telah mencapai tingkat kesucian Arahat dapat menjawab semua pertanyaan itu. Sang Buddha memuji bhikkhu yang telah mempraktekkan Dhamma (yakni seorang vipassaka), tetapi tidak satupun kata pujian yang diucapkan beliau untuk orang yang terpelajar (yakni seorang ganthika).

Murid-murid yang tinggal di sana tidak mengerti mengapa Sang Buddha memuji sang bhikkhu tua dan tidak memuji guru yang telah mengajari mereka. Karena itu, Sang Buddha menjelaskan permasalahannya kepada mereka. Pelajar yang banyak belajar tetapi tidak mempraktekkannya sesuai Dhamma adalah seperti seorang penggembala sapi, yang menjaga sapi-sapinya untuk memperoleh upah; sedangkan seseorang yang mempraktekkan sesuai Dhamma adalah seperti pemilik sapi-sapi tersebut yang menikmati lima manfaat dari hasil pemeliharaan sapi (yakni: susu, krim, mentega, keju, dan ghee). Jadi orang terpelajar hanya menikmati pelayanan yang diberikan oleh murid-muridnya, tetapi bukan manfaat dari Magga-phala. Bhikkhu lainnya, meskipun hanya mengetahui sedikit dan hanya bisa sedikit dalam menguraikan naskah-naskah suci, telah memahami dengan jelas inti dari Dhamma dan telah mempraktekkannya dengan tekun dan penuh semangat; adalah seorang anudhammacari, yang telah menghancurkan nafsu indria, kebencian, dan ketidak-tahuan. Pikirannya telah bebas sepenuhnya dari kekotoran batin dan dari semua ikatan terhadap dunia ini maupun pada yang selanjutnya, ia benar-benar memperoleh manfaat dari Magga-phala.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Meskipun ia telah membaca banyak kitab suci, namun tidak melaksanakan Ajaran Sang Buddha, seperti gembala yang menghitung sapi orang lain, maka ia tidak mendapat manfaat hidup dalam pasamuan para bhikkhu.

Meskipun hanya membaca sedikit kitab suci, namun ia melaksanakan Ajaran Dhamma dengan sungguh-sungguh, melenyapkan pandangan keliru, nafsu raga dan kebencian, tidak melekat pada apapun dalam kehidupan ini maupun dalam kehidupan yang akan datang, maka ia akan mendapat manfaat dari kehidupan dalam pasamuan para bhikkhu.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production

Dhammapada Syair 18 – Kisah Sumanadevi

Ketika berdiam di Vihara Jetavana di kota Savatthi, Sang Buddha membabarkan syair kedelapan belas dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada Sumanadevi, putri bungsu Anathapindika.

Di kota Savatthi, di rumah Anathapindika dan rumah Visakha, dua ribu bhikkhu memperoleh dana makanan setiap hari. Di rumah Visakha, pemberian dana makanan diatur oleh cucu perempuannya. Di rumah Anathapindika, pemberian dana makanan dilakukan oleh, pertama anak perempuan tertuanya, kemudian oleh anak perempuan keduanya, dan akhirnya oleh Sumanadevi, anak perempuannya yang termuda. Kedua saudara perempuannya yang lebih tua mencapai tingkat kesucian Sotapatti dengan mendengarkan Dhamma, setelah melayani dana makanan kepada para bhikkhu. Sumanadevi bahkan melakukan lebih baik dan mencapai tingkat kesucian Sakadagami.

Suatu ketika Sumanadevi jatuh sakit dan di tempat tidurnya ia memohon kehadiran ayahnya. Ayahnya datang, dan ia memanggil langsung ayahnya sebagai “Adik laki-laki” (Kanittha bhatika), kemudian ia meninggal dunia. Istilah panggilan itu membuat ayahnya resah, gelisah, dan berduka cita, memikirkan bahwa putrinya telah mengigau dan tidak berada dalam kesadarannya pada saat meninggal dunia. Jadi, ia mengunjungi Sang Buddha dan menceritakan perihal putrinya, Sumanadevi. Sang Buddha kemudian berkata kepada lelaki berbudi luhur itu bahwa putrinya telah dalam kesadaran dan sepenuhnya tenang pada saat ia meninggal dunia. Sang Buddha juga menjelaskan bahwa Sumanadevi telah menyebut ayahnya dengan sebutan “adik laki-laki” karena ia mencapai tingkat kesucian yang lebih tinggi daripada tingkat kesucian ayahnya. Ia adalah seorang Sakadagami, sedangkan ayahnya adalah seorang Sotapanna. Anathapindika juga diberitahu bahwa Sumanadevi telah lahir kembali di alam surga Tusita.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Si pembuat kebajikan berbahagia di kehidupan ini, ia juga berbahagia dalam kehidupan yang akan datang, ia berbahagia di kedua alam kehidupan. Ia sangat berbahagia ketika merenungkan perbuatan bajiknya, dan ia akan lebih bahagia lagi setelah terlahir di alam surga.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production

Dhammapada Syair 17 – Kisah Devadatta

Ketika berdiam di Vihara Jetavana di kota Savatthi, Sang Buddha membabarkan syair ketujuh belas dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada Devadatta.

Suatu saat Devadatta menetap bersama Sang Buddha di Kosambi. Selama tinggal di sana, ia menyadari bahwa Sang Buddha menerima banyak perhatian dan penghormatan maupun pemberian dari umat. Dia merasa iri hati terhadap Sang Buddha dan berhasrat untuk memimpin pasamuan Sangha. Suatu hari, ketika Sang Buddha sedang memberikan khotbah di Vihara Veluvana di Rajagaha, Devadatta mendekati Sang Buddha dan dengan alasan bahwa Sang Buddha sudah semakin tua, dia berharap Sangha akan dipercayakan dalam pengawasannya. Sang Buddha menolak permohonannya serta menegurnya, berkata bahwa dia telah menelan air ludah orang lain. Sang Buddha kemudian meminta Sangha untuk mengeluarkan pengumuman (Pakasaniya kamma) sehubungan dengan kelakuan Devadatta.

Devadatta merasa tersinggung serta bersumpah untuk membalas dendam kepada Sang Buddha. Tiga kali, dia mencoba untuk membunuh Sang Buddha. Pertama, dengan menyewa beberapa orang pemanah; kedua, dengan menaiki ke atas Bukit Gijjhakuta dan menjatuhkan sebuah batu besar kepada Sang Buddha; dan ketiga, dengan membuat Gajah Nalagiri untuk menyerang Sang Buddha. Pemanah sewaan kembali dengan pencapaian tingkat kesucian Sotapatti, tanpa menyakiti Sang Buddha. Batu besar yang didorong jatuh oleh Devadatta sedikit melukai ibu jari kaki Sang Buddha, dan ketika Gajah Nalagiri berlari menuju hadapan Sang Buddha, ia menjadi jinak di hadapan Sang Buddha. Dengan demikian Devadatta gagal untuk membunuh Sang Buddha. Dia pun mencoba siasat lainnya. Dia mencoba untuk memecah belah Sangha dengan cara membawa pergi beberapa bhikkhu baru bersamanya ke Gayasisa, namun demikian banyak di antara mereka yang dijemput kembali oleh Sariputta Thera dan Maha Moggallana Thera.

Kemudian Devadatta jatuh sakit. Setelah menderita sakit selama sembilan bulan, dia meminta murid-muridnya untuk  membawanya menghadap Sang Buddha, dan karena itu melakukan perjalanan ke Vihara Jetavana. Mendengar Devadatta akan datang untuk menemuiNya, Sang Buddha berkata kepada murid-muridNya bahwa Devadatta tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk menemuiNya.

Ketika Devadatta dan rombongannya mencapai kolam di dekat Vihara Jetavana, para pengangkutnya meletakkan tandu tempat tandunya di tepi kolam dan mereka pergi mandi. Devadatta bangun dari tempat berbaringnya dan menjejakkan kedua kakinya di tanah. Seketika itu juga kakinya terjerembab ke dalam tanah dan sedikit demi sedikit dia tenggelam. Devadatta tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Sang Buddha karena perbuatan jahat yang telah dia lakukan terhadap Sang Buddha. Setelah kematiannya, dia terlahir di Neraka Avici, tempat yang penuh dengan penyiksaan terus-menerus.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Si pembuat kejahatan menyesal dalam kehidupan ini, ia juga menyesal dalam kehidupan yang akan datang, ia menyesal di kedua alam kehidupan. Ia sangat menyesal ketika merenungkan perbuatan jahatnya, dan ia akan lebih menderita lagi setelah terlahir di alam sengsara.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production

Dhammapada Syair 16 – Kisah Upasaka Dhammika

Ketika berdiam di Vihara Jetavana di kota Savatthi, Sang Buddha membabarkan syair keenam belas dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada Dhammika, seorang umat awam.

Suatu ketika, di kota Savatthi hiduplah seorang umat awam bernama Dhammika, yang berbudi luhur dan sangat gemar memberikan dana. Ia secara teratur memberikan dana makanan serta kebutuhan lainnya kepada para bhikkhu dan juga pada waktu-waktu tertentu. Pada kenyataannya, ia merupakan pemimpin dari lima ratus umat Buddha berbudi luhur yang tinggal di Savatthi. Dhammika memiliki tujuh orang putra dan tujuh orang putri. Sama seperti ayahnya, mereka semua berbudi luhur dan tekun berdana. Ketika Dhammika jatuh sakit dan berbaring di tempat tidurnya, ia membuat permohonan kepada Sangha untuk datang menemuinya dan membacakan paritta-paritta suci di samping pembaringannya. Ketika para bhikkhu membacakan Maha satipatthana Sutta, enam kereta kuda yang penuh hiasan dari enam alam surga datang mengundangnya untuk pergi ke alam mereka masing-masing. Dhammika berkata kepada mereka untuk menunggu sebentar, takut kalau mengganggu pembacaan sutta. Para bhikkhu, berpikir bahwa mereka diminta untuk berhenti, berhenti dan kemudian meninggalkan tempat itu.

Sesaat kemudian, Dhammika memberitahu anak-anaknya mengenai enam kereta kuda yang penuh hiasan yang sedang menunggunya. Kemudian ia memutuskan untuk memilih kereta kuda dari alam surga Tusita dan meminta salah satu anaknya untuk memasukkan karangan bunga pada kereta kuda tersebut. Kemudian ia meninggal dunia dan terlahir kembali di alam surga Tusita. Demikianlah, orang berbudi luhur berbahagia di dunia ini sama seperti di alam berikutnya.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Dalam kehidupan ini ia berbahagia, dalam kehidupan yang akan datang ia juga akan berbahagia, dalam kedua alam kehidupan si pembuat jasa kebaikan berbahagia. Ia bergembira dan berbahagia menyaksikan buah dari perbuatannya yang baik.

  • Sumber: Dhammapada Atthakatha, Insight Vidyasena Production