Penerimaan lebih tepat diartikan sebagai merangkul apa adanya daripada sekedar menerima dengan pasrah dan seolah-olah penuh keterpaksaan. Ketika kita menerima sebuah realitas yang sulit, kita akan mampu menemukan pikiran positif dan menjalani realitas tersebut dengan sewajarnya. Dengan sikap menerima kita menemukan kedamaian sehingga mampu menjalani hidup dengan lebih mendalam.

Penerimaan atas kesalahan kita dan orang lain akan membuat kita lebih bersabar dan berusaha untuk tidak menyakiti atau menilai buruk diri kita dan orang lain. Dengan penerimaan kita belajar untuk menumbuhkan kepercayaan dan pengertian. Meskipun demikian, penerimaan haruslah diiringi dengan ketajaman, yaitu ketajaman untuk membedakan mana yang dapat kita terima dan mana yang tidak.

Kutipan

“Barang siapa yang mengabaikan masa kini, membuang semua yang dia punyai” – Schiller

“Meskipun Anda tidak dapat mengubahnya, Ana dapat menangani situasi sulit dengan begitu indah” – Inayat Khan

“Tidak ada orang yang menjadi dirinya sendiri akan diterima sepanjang waktu. Seluruh dunia dapat menerimamu, tetapi jika kamu tidak mencintai dirimu sendiri, kamu tidak akan menyadarinya. Kebalikannya juga berlaku – seluruh dunia dapat menolakmu, tetapi jika kamu mencintai dirimu sendiri, kamu tidak akan menyadarinya. Terimalah dirimu apa adanya dan seluruh dunia menjadi dapat kamu terima.” – Bartholomeus

Peribahasa

Jika kamu hidup di sungai, kamu harus berteman dengan buaya. – Peribahasa India

Sebab tidak ada seorang pun yang dapat diberkati tanpa persetujuan kepalanya sendiri. – Peribahasa Orang Yoruba (etnis Afrika Barat)

Cerita Kisa Gotami Yang Kehilangan Anaknya

Dahulu kala hiduplah seorang wanita muda dari keluarga kaya raya. Wanita itu bernama Kisa Gotami. Dia menikah dengan seorang pedagang kaya dan melahirkan seorang putra yang sehat. Akan tetapi kebahagiaan mereka tidak bertahan lama. Pada usia sekitar satu tahun, putranya tiba-tiba jatuh sakit dan meninggal dunia. Larut dalam kesedihan, Kisa Gotami berkeliling dari rumah ke rumah dan memohon kepada setiap orang yang dia jumpai kalau ada yang bisa menghidupkan kembali anaknya. Tentu saja tidak ada seorang pun yang bisa menyanggupi permohonannya. Akhirnya dia bertemu dengan seorang penganut ajaran Buddha yang menyuruhnya untuk menemui Buddha Gautama. Ketika Kisa Gotami membawa bayi yang telah meninggal tersebut, Buddha Gautama berkata padanya: “Hanya terdapat satu cara utuk menyelesaikan masalahmu. Pergi dan bawalah lima benih dari keluarga yang belum pernah ada satu anggota keluarganya pun yang telah meninggal.” Kisa

Gotami beranjak pergi dan bertanya dari rumah ke rumah namun tidak ada satu keluarga pun yang belum pernah mengalami kematian dari anggota keluarganya. Menyadari maksud Buddha Gautama, Kisa Gotami akhirnya bisa memahami bahwa satu-satunya hal yang bisa dia lakukan adalah menerima kenyataan bahwa anaknya telah meninggal dunia. Kisa Gotami pun kembali menemui Buddha dan menjadi biksuni.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s