Valentine: Pro atau Kontra?

Besok, tanggal 14 Februari sebagian besar orang akan merayakan Hari Valentine dengan penuh suka cita. Tetapi akhir-akhir ini saya membaca banyak komentar dan artikel yang seolah-olah menolak peringatan hari kasih sayang tersebut. Lantas timbul dalam benak saya, mengapa timbul masalah pro dan kontra tentang peringatan hari kasih sayang? Bukankah seharusnya semua orang menyetujui adanya hari tersebut?

Terlepas dari pro dan kontra tersebut, saya hanya ingin memberikan sedikit pendapat saya tentang hari Valentine.

Sejarah

Hari Santa Valentine atau biasanya lebih dikenal dengan hari Valentine sebenarnya diambil dari nama martir Kristen yang bernama sama. Dan yang mengejutkan adalah martir dengan nama ini tidak hanya 1, tetapi setidaknya ada 2 orang martir Kristen yang bernama Valentine yang dipinjam namanya untuk menandai hari ini. Uniknya, kisah kedua martir tersebut tidaklah romantis sama sekali.

Martir pertama adalah Valentine dari Roma. Beliau adalah seorang pendeta di Roma dan dibunuh pada tahun 269 Masehi. Beliau kemudian dikubur di Via Flaminia dan reliknya berada di Gereja Saint Praxed di Roma.

Martir kedua adalah Valentine dari Terni (197 M) dan dikisahkan telah dibunuh selama masa penganiayaan di bawah Kaisar Aurelian. Beliau juga dikubur di Via Flaminia, tetapi dengan lokasi yang berbeda dengan Valentine dari Roma. Reliknya terdapat di Basilica Santa Valentine di Terni.

Terdapat pula martir ketiga yang bernama Valentine yang dibunuh di Afrika bersama sejumlah kawanan, tetapi tidak terdapat pengetahuan yang lebih mendalam tentang martir ketiga ini.

Jadi, dari ketiga kisah di atas, kita tidak melihat adanya pola romantisme atau kasih sayang. Lantas bagaimana kronologisnya pengaitan kisah martir Valentine ini menjadi hari kasih sayang?

Versi romantis kisah Valentine dapat dilacak dalam Legenda Aurea (Legenda Emas), yakni kumpulan tulisan yang ditulis sekitar tahun 1260 oleh Jacobus de Voragine. Menurut versi ini, Santa Valentine adalah seorang Kristen yang diinterogasi oleh Kaisar Claudius II. Claudius sangat tertarik dengan Valentine dan berdiskusi dengannya dengan harapan membuatnya meninggalkan agama Kristen dan memeluk Paganisme Roma. Valentine menolak dan sebaliknya mencoba mengkristenkan Claudius. Karena hal inilah, Valentine kemudian dibunuh. Sebelum hari penghukumannya, beliau berhasil melakukan keajaiban dengan menyembuhkan kebutaan yang dialami anak gadis salah seorang penjaga tahanannya.

Nah, bahkan dalam versi ini pun belum terlihat sisi romantisnya hari valentine bukan? Oleh karena itu seiring berjalannya waktu, masyarakat modern mulai memberikan sentuhan berbeda pada cerita diatas. Valentine adalah seorang pendeta yang menolak sebuah hukum yang dibuat oleh Kaisar Claudius II dari Romawi. Hukum itu memerintahkan agar pria muda tetap membujang. Kekaisaran mengeluarkan hukum ini demi menambah jumlah pasukannya karena pria yang sudah menikah tidak cocok menjadi tentara. Akan tetapi pendeta Valentine dengan diam-diam melakukan upacara pernikahan bagi pasangan muda. Ketika Claudius mengetahui hal ini, dia pun memerintahkan penangkapan Valentine dan memenjarakannya. Pada senja hari sebelum Valentine dieksekusi, dia menuliskan kartu Valentine yang pertama yang ditujukan bagi seorang gadis, sebagaimana kisah seorang gadis buta anak penjaga tahanan dalam versi Legenda Emas. Didalam kartu tersebut tertulis “Dari Valentine-mu”.

Demikianlah versi romantis kisah Valentine pun tercipta. Dari yang pada mulanya tidak ada kaitan dengan kasih sayang, kemudian berubah menjadi sebuah versi romantis yang kemudian malah dikenal secara luas. Pada kenyataannya, versi romantis ini tidak memiliki dasar historis apapun, selain merupakan penggubahan dari versi kisah Valentine dalam Legenda Emas.

Pro atau Kontra?

Dari cuplikan sejarah di atas, dapat diketahui dengan jelas bahwa hari Valentine memang meminjam istilah dan nama orang Kristen. Mungkin ini pula yang menjadi salah satu alasan sebagian orang menolak memperingati hari Valentine karena tidak beragama Kristen. Bahkan di beberapa negara seperti negara Arab Saudi memilih untuk melarang perayaan hari Valentine. Toko-toko bunga dan cokelat diminta untuk tidak menjual pernak-pernik berwarna merah/pink sampai hari Valentine berakhir. Apabila dilanggar, maka usaha mereka bisa ditutup. Tetapi marilah kita mencoba melepas embel-embel agama dan melihat makna hari Valentine.

Saya kira semua orang akan setuju bahwa kasih sayang seharusnya dirayakan setiap hari, tidak hanya satu hari saja. Terlebih lagi seharusnya kasih sayang itu bersifat universal, tidak hanya diberikan kepada seorang kekasih, tetapi juga kepada orang tua, saudara, teman, dan orang lain yang mungkin membutuhkannya. Tetapi kita juga seharusnya tidak memungkiri bahwa manusia membutuhkan momen-momen tertentu sebagai pengingat dan sekaligus sebagai simbol perayaan. Sepertihalnya orang-orang boleh saja berpuasa setiap hari tetapi hari kemenangan adalah hari tertentu dan dirayakan secara besar-besaran. Demikian pula sebagian besar orang membutuhkan sebuah tanggal khusus sebagai pengingat dan perayaan mereka dan dipilihlah tanggal 14 Februari dengan meminjam nama Kristiani.

Sebenarnya apabila kita mau mengenal lebih jauh kebudayaan Asia, maka terdapat kisah hari kasih sayang  yang dapat disetarakan dengan hari Valentine dari Barat. Di Cina misalnya, terdapat Festival Qixi. Menurut legenda, bintang Cowherd dan bintang Weaver Maid biasanya dipisahkan oleh bima sakti, tetapi akan bertemu pada tanggal 7 bulan 7 penanggalan Cina. Pertemuan ini diibaratkan pertemuan sepasang kekasih yang hanya bisa terjadi setahun sekali untuk kemudian berpisah kembali.

Versi Jepang dari Qixi disebut Tanabata, yang lebih manusiawi dengan memakai nama Orihime dan Hikoboshi. Serupa dengan Qixi, kedua bintang tersebut dipisahkan oleh sebuah sungai bintang-bintang (milky way) dan hanya diijinkan bertemu setahun sekali pada tanggal 7 bulan 7 penanggalan bulan. Perayaan kasih sayang ini hanya berlangsung di malam hari.

(Meskipun bukan seorang Nasrani) Saya sendiri tidak menolak peringatan hari kasih sayang ditandai dengan momen 14 Februari, toh itu semua hanyalah momen pengingat saja. Bahkan bagi beberapa orang, menunggu 14 Februari menjadi penantian yang mendebarkan (siapa yang mau ngasih cokelat ke saya, hehe). Kalau toh kita berani mengatakan merayakan hari kasih sayang setiap hari, maka tidak ada salahnya merayakan momen kasih sayang tersebut tanggal 14 Februari, bukan?

Selamat Hari Valentine

2 thoughts on “Valentine: Pro atau Kontra?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s