Mengapa Harus Beragama Buddha?

• Do not go upon what has been acquired by repeated hearing,
• nor upon tradition,
• nor upon rumor ,
• nor upon what is in a scripture,
• nor upon surmise,
• nor upon an axiom,
• nor upon specious reasoning,
• nor upon a bias towards a notion that has been pondered over,
• nor upon another’s seeming ability,
• nor upon the consideration, “The monk is our teacher.”
• Kalamas, when you yourselves know: “These things are good; these things are not blamable; these things are praised by the wise; undertaken and observed, these things lead to benefit and happiness,” enter on and abide in them.’
Kalama Sutta

Stupa Kesariya, tempat dimana Buddha Gotama memberikan Kalama Sutta

Terkadang sebagai umat minoritas saya cukup sering menjadi objek ajakan teman-teman non-buddhis saya untuk masuk ke agama yang mereka anut, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan berbagai cara dan alasan, teman-teman saya mencoba memberikan pandangan mereka mengenai agama mereka, agama Buddha hingga persoalan sehari-hari. Pada awalnya saya merasa risih namun lama-kelamaan hal itu justru menjadi sebuah hal yang lucu bagi saya untuk perhatikan.

Sebenarnya cukup banyak materi yang bisa kita dapatkan di internet berkaitan dengan keunggulan antara satu agama dengan agama lainnya. Bahkan ada yang sampai membuat daftar “Alasan Mengapa Harus Beragama X”. Beruntung saya mendapatkan sebuah artikel yang sangat bagus yang ditulis dengan apik oleh Barbara O’Brien, seorang penulis tetap di website About.com. Poin tulisannya inilah yang saya pinjam dalam menuliskan artikel ini.

Ajaran Buddha sudah dari semenjak permulaannya telah menempatkan dirinya dalam posisi yang unik. Hal yang paling mendasar dalam kaitannya dengan artikel ini adalah pertanyaan Apakah Ajaran Buddha termasuk sebuah agama? Bagi saya IYA! Dan itu sudah cukup jelas. Bahkan ajaran Buddha berhasil menempatkan posisinya sebagai sebuah agama yang unik. Sebagai agama, ajaran Buddha memiliki banyak tradisi, disiplin/peraturan, dan doktrin yang terkadang bisa membuat kita sulit memahaminya sehingga menjadi alat bagi umat beragama lain untuk menyudutkan ajaran Buddha. Namun sebagai agama, ajaran Buddha juga berhasil melepaskan diri (walaupun tidak sepenuhnya, tergantung dari tradisi mana yang Anda anut) dari salah satu sendi yang membentuk agama yakni konsep pemujaan kepada Tuhan atau Maha Dewa. Terlebih ajaran Buddha selalu menitikberatkan pada sisi humanis manusia, yang selalu berlandaskan pada pengalaman dan kematangan batin seseorang, sehingga ajaran Buddha sering dianggap lebih sebagai Jalan Hidup daripada agama.

Kemudian muncul pertanyaan, apabila ajaran Buddha adalah sebuah ajaran yang selalu menitikberatkan pada pengalaman individual seseorang, bergantung pada kematangan batin seseorang, apakah penting bagi kita sebagai umat Buddha untuk merayu umat beragama lain masuk menjadi umat Buddha? Mempromosikan tentu saja boleh, tapi memaksa hingga mengobral sampai berbusa-busa tidak akan ada gunanya. Banyak tokoh besar yang belajar tidak saja dari satu agama, tetapi mereka justru menjadi besar dengan mengenal ajaran agama yang lain. Almarhum Gus Dur adalah salah satu contohnya. Dengan demikian, seorang buddhis tidak pernah merasa memiliki kewajiban untuk membuddhiskan penganut agama lain, namun lebih penting dari itu, mem”buddhis-sejati”kan diri mereka sendiri.

Sebenarnya alasan paling umum yang digunakan oleh penganut agama lain adalah dengan mengatakan bahwa hanya agamanyalah satu-satunya agama yang benar (the True Religion), sedangkan agama yang lain adalah agama yang salah, keliru dan sesat. Alasan ini kemudian makin dilengkapi dengan “ancaman” akan hukuman-hukuman akhirat yang akan diterima oleh seorang kafir ketika menghadapi kematian dan sebagainya. Di satu sisi, saya menilai cara ini sungguh efektif digunakan pada orang-orang yang tidak mengerti akan ajaran agamanya sendiri. Misalnya seorang buddhis KTP, akan mudah terpengaruh dan akhirnya berpindah agama. Atau pula cara ini akan efektif apabila digunakan pada beberapa dekade yang lalu, jaman dimana informasi masih sangat terbatas dan bibit perang serta ketakutan menjadi ancaman kuat bagi seseorang untuk berpindah mengikut pihak mayoritas. Di sisi lain, saya melihat bahwa alasan yang dikemukan tidaklah pantas, mengatakan bahwa agamanyalah satu-satunya agama yang benar yang berarti secara otomatis agama lainnya adalah agama sesat akan berakibat buruk pada prinsip toleransi dan kerukunan antar umat beragama. Tidak ada seorang pun yang menerima apabila keyakinan yang dianutnya adalah agama yang salah dan sesat. Terlebih bagi saya pribadi tidak ada satupun agama yang benar-benar memiliki kebenaran absolut. Ada banyak kebenaran yang bisa kita temukan dari masing-masing agama, tetapi tidak ada satupun agama yang benar-benar merupakan kebenaran sesungguhnya, termasuk agama Buddha sendiri. Semua bagaikan jari-jari yang menunjuk bulan, hanya sebagai penunjuk saja.

Alasan-alasan lain hampir selalu berkenaan dengan keunggulan-keunggulan agamanya, yang sering kali dikait-kaitkan dengan fakta-fakta aktual maupun dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Misalnya dengan mengatakan bahwa jumlah penganut agamanya adalah yang terbanyak, pertambahan jumlah penganut yang terbanyak, hingga mengait-kaitkan ayat-ayat sucinya dengan ilmu pengetahuan. Bagi saya pribadi, jumlah penganut atau pertumbuhan jumlah penganut bukanlah masalah berarti karena mayoritas tidak selalu mencerminkan kebenaran. Demikian pula halnya dengan pengkait-kaitan ayat-ayat suci dengan ilmu pengetahuan yang terkadang bisa saja berdampak positif seperti meyakinkan orang lain atau menambah kadar keyakinan diri sendiri terhadap agama yang dianut. Tetapi ada satu hal yang patut diwaspadai, bahwasanya ilmu pengetahuan adalah ilmu yang selalu berubah seiring dengan perkembangan jaman. Dulu bumi disebut pusat semesta, kemudian sekarang bumi adalah salah satu planet berkehidupan di alam semesta, selanjutnya entah apa lagi. Yang jelas, alasan dengan mengait-kaitkan ajaran agama dengan ilmu pengetahuan bisa menjadi jebakan manis apabila kita tidak benar-benar mengetahui kebenarannya dan meyakininya.

Menanggapi ajakan teman-teman non-buddhis, saya rasa kita perlu mengembangkan kesadaran dan melihat kembali apa yang terjadi selama kita menjadi buddhis dalam hidup ini. Apakah kita telah berbuat baik, ataukah sebaliknya? Bisa jadi agama yang lain akan memberikan dampak luar biasa mengubah seorang buddhis menjadi lebih baik. Atau bisa pula agama Buddha akan menjadi sangat keliru bagi orang lain. Ajaran Buddha dan kita sebagai buddhis hendaknya selalu melihat agama dari manfaatnya, bukan sekedar faktanya saja. Manfaat dari beragama itulah yang terpenting, bukan agamanya. Mengenai mana agama yang paling benar adalah agama yang sesuai dengan hati nurani seseorang, yang sesuai dengan kematangan batin seseorang.

Selamat Tahun Baru 2010
Semoga damai selalu menyertai kita semua

One thought on “Mengapa Harus Beragama Buddha?

  1. bermanfaat sekali artikelnya🙂 saya bingung kok tidak ada yang komentar ya hehe :3
    jujur saja saya masih mau belajar lebih dalam tentang agama buddha dengan searching” di google, karena di tempat tinggal saya sangat minim sekali fasilitas pengajaran buddha untuk anak remaja :’3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s