Dancing Your Life: A Story

orange autumn leaves

By: Hansen Seng

Di usiaku yang sudah senja ini, entah apa yang kupikirkan. Haha… Terkadang aku merasa telah menjalani hidup dengan sia-sia. Yang sering dikerjakan oleh orang tua sepertiku hanyalah mengingat kembali hal-hal yang pernah terjadi di masa lalu sambil duduk di kursi yang sama tuanya denganku. Ah, terkadang tersirat rasa malu hanya dengan membayangkan kesalahan-kesalahan yang telah kuperbuat selama hidupku ini. Namun kegetiran itu juga berubah tatkala terbayang semua pengorbanan orang-orang terdekatku yang telah begitu berbaik hati menyokongku dan memperbaiki kesalahan-kesalahanku itu. Mereka yang telah menjadi semangat bagiku untuk terus maju entah walau apapun yang terjadi.

Kebodohan pertama yang kuingat adalah ketika gagal ujian nasional tahun 1990. Ujian memang selalu menjadi momok bagi kami para siswa SMA, apalagi ini akan menentukan masa depan kami seperti apa. Apakah saya dan teman-teman akan berhasil melewati ujian ini? Namun terkadang kami juga berpikir apakah ada gunanya dengan berhasil lolos ujian nasional? Orang tuaku termasuk kaum ekspatriat di Singapura. Sebagai anak tunggal, mereka sangat menyayangiku dan memberikan semua keperluanku. Menurutmu harta warisan mereka akan diserahkan kepada siapa? Tentu kepada anaknya bukan? Apalagi setelah lolos ujian nasional, kami akan berlomba-lomba untuk masuk National University of Singapore (NUS) atau Nanyang. Terkadang aku dan teman-teman terus berpikir untuk apa kami menjadi budak buku dan melewati hari-hari dengan pelajaran. Namun manusia hidup selalu mempengaruhi satu sama lainnya. Dan kami pun terpengaruh dengan kondisi sosial masyarakat yang memang mementingkan pendidikan. Akhirnya kami menghabiskan hari demi hari dengan belajar dan belajar. Sampai akhirnya aku berhasil lulus ujian nasional. Lega hati ini. Namun bagaimana dengan Ardian, teman baikku sejak kecil dan sekaligus tetangga sebelah rumahku? Dia tidak lulus ujian nasional. Hari-harinya murung. Pernah sekali aku melihatnya menangis di marahi orang tuanya yang mengatakan dia tidak berguna. Mungkin memang dia tidak pintar, namun dia punya keahlian yang lain, dia orang yang lucu dan bisa menyanyi. Sebagai teman baiknya kami sering bermain bersama. Dia sering kali bercerita menjadi seorang penyanyi atau aktor. Aku mendukungnya karena memang dia punya bakat disana. Namun apa yang terjadi sebulan setelah pengumuman ujian nasional? Ardian meninggal bunuh diri dengan terjun dari lantai paling atas apartemen kami. Kami semua terkejut. Ibunya pingsan seketika. Di rumah sakit hanya ada aku, orang tuaku, dan keluarga besar Ardi. Semua menangis. Apalagi ibunya yang menangis dan meminta maaf. Tapi apa pun yang mereka lakukan Ardi tidak akan kembali. Dia telah pergi selamanya. Ada rasa kesal yang begitu mendalam pada orang tuanya, teman-temannya, dan orang-orang yang telah menjatuhkannya dan tidak mendukungnya pada saat dia sedang membutuhkan dukungan. Dan ada lebih banyak rasa kesal dan menyesal karena aku termasuk orang-orang yang tidak memberikan semangat pada Ardi. Sebulan itu memang aku sibuk dengan berbagai persiapan hal, mulai dari pelepasan SMA, daftar kuliah, kursus, sampai hari terakhir Ardi hidup, aku sedang mengikuti ujian masuk NUS. Sejak kematian Ardi aku menjadi murung. Dia memang sahabat terbaikku. Dan kini aku merasa sudah tidak berguna lagi karena telah berbuat begitu kejam padanya. Walaupun aku diterima di NUS, tetapi nilai-nilaiku anjlok tiap semester. Belum lagi aku sempat terjerat obat-obatan. Kata teman-teman kampusku obat-obatan itu mereka dapatkan dari Batam. Entah sejak kapan aku menjadi begitu tidak peduli dengan hidupku. Hanya cukup sebulan lamanya aku memakai obat-obatan itu sampai kondisi kesehatanku menurun. Aku sempat sekali dirawat di RS Elisabeth karena kekurangan gizi. Beruntung aku masih didukung dan dihibur oleh kedua orang tuaku yang begitu baik hati sehingga perlahan-lahan aku memutuskan untuk kembali menjalani hidup normal.

Namun tak lama berselang sejak aku keluar dari RS, kedua orang tuaku ditipu dan usaha mereka bangkrut. Aku yang dari anak orang kaya menjadi anak orang miskin. Belum lagi mereka berdua mengalami kecelakaan mobil dan dikabarkan meninggal. Hidupku kembali serasa tak berarti. Sampai akhirnya aku mengetahui bahwa ada sabotase yang menyebabkan rem mobil orang tuaku tidak bisa berfungsi dengan baik. Aku tak pernah menyangka bahwa ternyata Paman Wong adalah orang yang sekeji itu. Dia memang sudah lama mengincar harta kami, aku mengetahuinya walaupun orang tuaku mempercayainya sebagai kaki tangan mereka. Ketika usaha orang tuaku bangkrut pun, mereka masih mempercayai Paman Wong untuk memulai bisnis baru dengan sisa harta keluarga yang kami miliki. Tak dinyana, ternyata yang menggelapkan uang perusahaan dan menghancurkan bisnis orang tuaku adalah Paman Wong sendiri. Belum lagi dia ingin menguasai harta keluarga kami yang memang memiliki sedikit aset perkebunan sawit di Jambi Indonesia. Tiba-tiba aku merasa begitu dendam. Butuh waktu bertahun-tahun bagiku untuk merangkak dari awal dan menjadi seorang ekspatriat muda dalam permainan pialang. Awal tahun 1998, ketika kekayaanku cukup, aku berniat untuk membeli 90% saham perusahaan Paman Wong sehingga aku bisa menguasai dari dalam dan membuatnya tersiksa dengan keberadaanku. Pernah aku bertemu dengannya sekali namun tampaknya dia sudah lupa denganku. Tapi saat itu memang kubiarkan walaupun hati ini panas ingin mendepaknya keluar. Setelah berhasil menanamkan modal pada lembaran kertas saham itu, tiba-tiba dewi fortuna kembali menjauhiku. Dunia terkena krisis global dan paling parah adalah Asia Tenggara seperti Singapura dan Indonesia. Padahal di kedua negara inilah aku menanamkan saham yang besar. Krisis global yang seharusnya bisa kuprediksi itu luput dari pengamatanku. Akhirnya aku kembali bangkrut demikian pula perusahaan Paman Wong.

Dalam kondisi yang serba tak pasti itu aku merasa linglung. Kepalaku pusing dengan berbagai permasalahan dan tagihan-tagihan. Aku merasa capek dan muak! Aku capek dengan segala permasalahan yang menunggu untuk diselesaikan! Mau sampai kapan aku harus bekerja demikian keras. Memang sih orang Singapura dikatakan workaholic. Tapi aku sudah muak! Kerja kerasku bertahun-tahun telah berakhir dengan sia-sia. Sampai aku juga berpikir seperti dimainkan oleh Tuhan. Mengapa hidup yang seharusnya diberikannya dengan adil menjadi begitu penuh penderitaan bagiku? Bagi sebagian besar orang sepertiku? Aku merasa hidup tidak berarti lagi. Aku merasa Tuhan telah meninggalkanku, atu setidaknya mungkin dari awal Dia memang tidak berada di sisiku. Dalam kekalutan itu aku terjerumus dalam minuman keras.

Sambil memegang sebuah botol Bir Bintang, aku berjalan menyusuri jalan menuju kostku yang memang tak layak disebut sebagai rumah. Aku ingat malam itu penuh dengan bintang. Terasa ada yang berbeda dari biasanya namun aku tidak begitu mempedulikannya. Hanya saja aku sudah capek dan berniat bahwa apapun yang akan terjadi siap kuhadapi, sekalipun itu berarti kematian. Namun anehnya aku merasa malam itu malam yang begitu menyenangkan – mungkin lebih tepat menenangkan sehingga membuat kita merasa begitu nyaman. Dari kejauhan aku melihat keramaian orang yang bersuka cita. Tampaknya mereka tidak begitu terpengaruh dengan krisis global yang baru-baru ini menghantam. Ketika kudekati barulah aku sadar ada sebuah perayaan Waisak disana. Di sebuah vihara kecil namun penuh sesak orang-orang yang berniat melepaskan kesulitan hidupnya sejenak. Perayaan yang diadakan pun cuma sederhana. Tanpa pesta mewah hanya beribadah dan saling sapa menyapa sambil menikmati hidangan yang tersedia. Merasa tertarik aku mendekati vihara itu walaupun karena sudah larut malam dan para umat sudah mulai beranjak pulang. Di vihara yang mulai sepi itu aku melihat sebuah patung Buddha yang tidak begitu besar, hanya seukuran badanku. Namun yang paling membuatku terkesan adalah ketenangan patung itu. Aku iri. Mengapa patung itu yang dibuat hanya sebagai sebuah patung bisa begitu tenang menghadapi berbagai macam hal, baik itu keributan, resesi, maupun demo. Yang dia tampilkan hanya duduk bersila dan dengan sedikit senyuman namun semua itu terasa begitu menenangkan. Aku tidak pernah melihat patung seperti ini sebelumnya. Ibuku pernah mengajakku ke vihara namun yang ada disana hanyalah patung-patung aneh dan mengerikan bagiku. Cukup hanya sekali itu aku pergi sembahyang di vihara sampai pada kesempatan ini aku bertemu dengan patung yang sama sekali berbeda.

Seorang umat berpakaian seperti lilitan-lilitan kain datang menghampiriku dari kejauhan ruangan. Begitu sampai aku baru menyadari kalau dia botak. Mungkin karena pengaruh alkohol sehingga pandanganku tidak begitu jernih. “Ada urusan apa?” dia tanya.

Sesaat aku diam. “Mengapa patung ini begitu anggun dan tenang? Mengapa patung itu tidak terpengaruh dengan apapun yang terjadi disekitarnya?”

Orang itu tersenyum dan berkata, “Dia hanya sebuah patung, tidak dijadikan sebagai objek pemujaan, tetapi dari patung itu memang ada 1 pelajaran yang bisa kita semua ambil. Kamu tahu itu?! Entah apapun yang kita lakukan, menunjuknya, menghancurkannya, meludahinya, patung itu akan tetap tenang dan bersahaja. Entah itu memujanya, menghiasinya, memindahkannya, patung itu pun akan tetap tenang. Demikian pula dengan krisis global yang terjadi saat ini, PHK, duka maupun suka cita, apapun yang terjadi patung itu tetap tenang. Pelajaran yang kita dapatkan dari patung itu adalah sikap untuk tidak melekat, membiarkan apa yang memang seharusnya terjadi biarkanlah terjadi! Kita manusia hanyalah salah satu spesies yang menghuni permukaan bumi ini. Tidak ada yang pasti bagi segala yang berkondisi, satu-satunya yang pasti hanyalah perubahan. Kita manusia tidak akan pernah bisa melawan arus perubahan, maka satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah menerima perubahan. Caranya dengan tidak melekat pada apapun juga. Pada dendam, pada uang atau harta, pada kesenangan semata. Cobalah untuk melepas, melepas dan melepas. Apa kau mengerti?”

Mendengar perkataan itu membuatku tersentak. Tak pernah kupelajari atau kudengar sebelumnya konsep ajaran seperti itu. Tiba-tiba saja aku merasa begitu lega sambil menatap keanggunan patung itu. Orang berjubah itu mungkin melihatku yang menatap patung itu dan mengambil botol birku.

“Jangan ada miras disini, biar kubuang untukmu.”

Ah, terserah deh pikirku. Bukan itu yang terpenting sekarang.

Lima tahun berlalu sejak pemulihan krisis ekonomi tersebut. Kali ini usahaku bergerak di bidang perdagangan. Memang kata orang, orang Cina tidak akan jauh dari usaha dagang dan bisnis. Tidak buruk memang, sebab keuntungan dari usahaku itu aku bisa memiliki rumah di Singapura dan Indonesia. Aku menjual barang-barang kesenian dan furnitur dari Indonesia ke Singapura dan menjual paket wisata Singapura bagi orang-orang Indonesia. Salah satu paket yang paling digemari saat ini adalah paket wisata kesehatan. Bisnis yang tidak jelek, namun lebih pasti daripada permainan pialang. Aku beserta istri dan anak-anakku yang kecil hidup berbahagia. Tak terasa ada beban yang membebani pundakku. Sejak malam di vihara itu aku sudah melepaskan semua kekhawatiranku tentang hidup. Dan hasilnya adalah aku tidak pernah lagi terjerumus dalam alkohol. Sekarang hidupku hanyalah untuk bersama dengan keluarga yang kucintai. Walaupun terkadang ada cek-cok sana-sini, namun kami yakin kami bisa menjalaninya bersama dengan prinsip yang kami pegang. Walaupun masih sebagai umat biasa, aku selalu menyempatkan hadir di setiap perayaan Waisak di vihara mungil itu. Selalu ada kekuatan baru sehabis perayaan Waisak yang mungkin tidak hanya dirasakan olehku tetapi juga oleh orang lain yang hadir. Hidupku kini adalah sekedar menjalani hidup apa adanya. Tanpa kecemasan, tanpa kemelekatan aku benar-benar merasa terlepas dan bebas.

Malam tahun baru sudah tiba lagi. Kali ini aku tidak lagi ditemani istriku. Dia telah pergi mendahuluiku hampir setahun yang lalu. Yah usia kami memang sudah tua sedangkan anak-anakku telah besar dan telah memiliki keluarganya sendiri. Hanya ada aku di rumah ini. Terkadang aku merasa rindu akan canda tawa anak-anakku yang masih kecil, namun entah kapan semuanya telah berlalu dan menjadi kenangan. Ada perumpamaan yang bilang, ketika seseorang tua, dia hanya akan menjadi seperti anjing penjaga rumah yang menggong-gong (alias batuk-batuk) ketika akan ada orang yang masuk ke rumah. Ahaha… uhuk uhuk uhuk….

(Suara pintu terbuka) Kakek…. Kakek….. Kami datang!!

Terdengar suara gemuruh riang anak-anak kecil. Yap! Mereka cucu-cucuku yang lucu.

Kami akan menghabiskan pergantian tahun baru ini dengan mengenang pelajaran di tahun lalu dan dengan hati yang baru pula, kami akan menyingkap segala masalah hidup yang akan kami hadapi dengan sebuah kata bijaksana: Let it be! Well, let it be what it would like to be. It is fine for us just to live here & now, and be happy!! Dancing and enjoy your life with more conciousness…

NB: Ketika perusahaan Paman Wong bangkrut akibat krisis global, Paman Wong nekad bunuh diri dengan loncat dari tebing tempat mobil orang tuaku jatuh.

Source: hansen_zinck@yahoo.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s