Bekerjalah saat kau bekerja, bermainlah saat kau bermain

 

Suatu ketika ada seekor keledai yang bekerja di penggilingan beras. Hari demi hari ia berjalan melingkar. Suatu hari ia sudah terlalu tua untuk menarik batu penggiling.

“Kamu telah bekerja sepanjang hidupmu. Sekarang kamu sudah tua dan sebaiknya pensiun”.

Dibawalah keledai itu oleh majikannya ke halaman luar dan diikat di sebatang pohon besar.

“Mulai sekarang kamu akan makan rumput segar, tidur panjang, dan menghirup udara segar”.

Akan tetapi si keledai tidak dapat menjalani hidup seperti itu. Maka ia pun berjalan memutari pohon, hari demi hari.

Leave a Comment

Filed under inspiring stories

Dhamma Diperuntukkan Bagi Penyelidikan dan Pemahaman Diri

‘Dhamma telah sempurna dibabarkan oleh Yang Terberkahi, untuk dipahami sendiri, dengan hasil segera, mengundang untuk dibuktikan, membawa pada Nibbana, untuk dihayati oleh para bijaksana dalam batin masing-masing.’

D.II: 94

Leave a Comment

Filed under harta dhamma

Ringkikan keledai dan nanyian jangkrik

 

Hal terbaik dari keledai adalah memiliki punggung yang kuat untuk membawa beban berat dan menahan derita. Kekurangan keledai adalah ia mengeluarkan suara yang payah, yang seseram jeritan hantu-hantu. Si keledai pun berpapasan dengan jangkrik dan tertarik dengan suara merdu si jangkrik.

“Apa yang kamu makan tiap hari? Mengapa suaramu begitu merdu?” tanya keledai.

“Aku hanya minum embun pagi dan aku tidak makan rumput” jawab si jangkrik.

“Suaraku tidak merdu karena aku makan makanan yang terlalu duniawi” pikir si keledai.

Semenjak itu si keledai hanya mengonsumsi embun gunung dan tak sehelai rumput pun. Dan pada akhirnya ia mati kelaparan.

Setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahannya sendiri. Melepas kekuatan kita untuk mencari sesuatu yang di luar kemampuan kita, sering meminta bayaran mahal, bahkan sampai mengorbankan hidup kita.

Leave a Comment

Filed under inspiring stories

Ulat sutra dan laba-laba

 

Ulat sutra makan daun murbei sepanjang hari sampai tua. Kemudian ia menghasilkan benang sutra untuk membentuk kepompong. Para peternak ulat sutra lalu memasukkan kepompong itu ke dalam air mendidih dan menarik keluar benang sutra yang panjang. sedangkan laba-laba pertama-tama bekerja keras membuat jaring dengan benang yang keluar dari badannya. Lalu ia duduk di tengah jaringnya menunggu serangga terbang yang akan menjadi santap malamnya.

Si ulat sutra berkata pada laba-laba, “Benangku dapat dibuat menjadi sulaman sutra terbaik yang diwariskan untuk generasi mendatang. Benangmu menjadi jebakan untuk menjebak serangga tak berdosa untuk kamu mangsa. Tidakkah kamu malu atas kekejamanmu?”

Si laba-laba lantas membalas, “Aku hidup dengan kemampuanku membuat benang. Kenapa mesti malu dalam mempertahankan hidup sendiri? Kamu ulat sutra yang selalu direbus sampai mati karena kemampuanmu menghasilkan benang indah. Itu sangat disayangkan.”

Memiliki bakat itu baik, tetapi bakat yang berlebihan seringkali membahayakan hidup kita sendiri.

Leave a Comment

Filed under inspiring stories

Dhamma Telah Dibabarkan dan Sulit Untuk Dimengerti


‘Dhamma ini, yang telah dimengerti olehKu adalah dalam, sulit untuk dilihat, sulit untuk dimengerti, tenang, sempurna, melebihi kata-kata, halus, dapat dimengerti bagi mereka yang terpelajar. Tapi ini adalah hasil dari kenikmatan kesenangan indria, kepuasan oleh kesenangan indria, kebahagiaan dalam kesenangan indria. Sehingga untuk sebuah hasil dari kenikmatan kesenangan indria, …. ini merupakan sebuah hal yang sulit dilihat, seperti untuk mengatakan bahwa sebab-akibat muncul oleh kondisi-kondisi. Ini juga, adalah hal yang sulit untuk dilihat, untuk mengatakan bahwa meredakan semua kegiatan, melepaskan segala kemelekatan, melenyapkan segala kemelekatan, tanpa nafsu, berhenti, Nibbana.

‘Oleh mereka yang memiliki nafsu dan kebencian,

Dhamma ini tidak dapat dimengerti.

Memimpin dalam melawan arus,

Dalam, tenang, sulit untuk dilihat, lembut,

Tak terlihat oleh mereka budak nafsu,

Terselubung oleh kegelapan dari kebodohan.’

M.I: 167-168; MLS.I: 212-213

Leave a Comment

Filed under harta dhamma

PENGHORMATAN RESPECT

Respect is honoring the worth or dignity in a person or process. When we respect others, we take their preferences and ideas seriously. We thoughtfully weigh our own insights and experiences against theirs.

Respect is merited particularly by those who are our elders, because knowledge, insight and wisdom often are hard won through a lifetime of discipline and learning.

Cultivating respect as a virtue does not mean insisting that all ideas, beliefs, or actions are respect-worthy. It does mean that we recognize the basic human dignity of others, even when their ideas or values are different than our own. A general attitude of respect also assumes that each person has something to teach us if we are willing to learn.

Kutipan

“Bagi orang yang memiliki keyakinan dan sila yang sempurna, akan memperoleh nama harum dan kekayaan, pergi ke tempat manapun ia akan selalu dihormati” – Buddha

“Kamu harus menghormati orang lain sebagaimana kamu ingin dihormati oleh mereka” – Sri Sathya Sai Baba (guru spiritual India)

“Anda menuntut penghormatan dan Anda akan mendapatkannya. Pertama-tama, Anda harus memberikan rasa hormat terlebih dahulu” – Mary J. Blige (penulis dan penyanyi Amerika)

Peribahasa

Dia yang ingin setangkai mawar harus menghormati duri-durinya. – Peribahasa Persia

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. – Peribahasa Indonesia

Cerita

Sunita, the Scavenger

In Savatthi there was a scavenger named Sunita. He was a road-sweeper and barely earned enough to feed himself. Sunita slept on the roadside, for he did not have a house to go to. He saw other people enjoying themselves but he could not mix with them because these people called him an outcast. Whenever a higher caste person went on the road Sunita had to run and hide so his shadow did not fall on them. If he was not quick enough he would be scolded and beaten. Poor Sunita lived a miserable life.

One day, as he was sweeping a dirty, dusty road, Sunita saw the Buddha with thousands of followers coming towards him. His heart was filled with joy and fear and finding no place to hide he just stood, joining his palms in respect. The Buddha stopped and spoke to poor Sunita in a sweet, gentle voice saying, “My dear friend, would you like to leave this work and follow me?”

Nobody had ever spoken to Sunita like this before. His heart was filled with joy and his eyes with tears. “O, most venerable Sir, I have always received orders but never a kind word. If you accept a dirty and miserable scavenger like me I will follow you.”

So the Buddha ordained Sunita and took him along with the other monks. From that day forth no one knew what Sunita’s caste was, and nobody treated him with disgust and cruelty. Everybody, even kings, ministers and commanders, respected him.

Leave a Comment

Filed under good deeds

PERTOBATAN – REPENTANCE

Pertobatan adalah rasa penyesalan disertai malu atas kesalahan yang telah kita perbuat. Kemudian timbul usaha untuk menebus kesalahan tersebut dengan mengakui kesalahan kita dan berkomitmen untuk tidak mengulanginya lagi. Without remorse or repentance, many kinds of growth are impossible. Unless we can see our errors and the harm done–and regret both–we are doomed to repeat them. And yet, repentance need not include self-flagilation or loathing; it is the former behaviors or attitudes that we eschew. When we get overly focused on self-criticism, we have less energy available to repair the harm we have caused.

Repentance is easier when we recognize that everyone does things that are ugly, which is why we all cherish understanding and grace.

Kutipan

“Apabila seseorang berbuat jahat, hendaklah ia tidak mengulangi perbuatannya itu, dan jangan merasa senang dengan perbuatan itu; sungguh menyakitkan akibat dari memupuk perbuatan jahat” – Buddha

 “Seseorang yang telah melakukan sebuah kesalahan dan tidak memperbaikinya, maka ia sedang melakukan kesalahan baru” – Kong Hu Cu

“Jika seseorang merasa bahwa dia tidak pernah berbuat sebuah kesalahan pun dalam hidupnya, maka itu berarti dia tidak pernah belajar sesuatu hal yang baru dalam hidupnya” – Albert Einstein

Peribahasa

Berpikir sebelumnya itu mudah, tetapi bertobat itu yang sulit. – Peribahasa Cina

Sesat surut terlangkah kembali (Memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan). – Peribahasa Indonesia

Leave a Comment

Filed under good deeds